MY TAPANULI TRAVEL JOURNAL
Sebelum lebaran terakhir tiba, keluarga saya memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta melainkan melancong ke Danau Toba dan melanjutinya kampung halaman orang tua di Sibolga, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Akses ke daerah ini dari Medan bisa ditempuh dengan pesawat kecil namun kami menempuh perjalanan liburan kali ini melalui rute darat. Sudah terbayang bila perjalanan ini akan sangat melelahkan, tetapi kami semua bersemangat dan berbahagia melewati kota demi kota yang dilewati maupun disinggahi.
Jarak antara kota Medan dan Sibolga adalah sekitar +349 km dari sebelah barat daya kota Medan dan untuk pulang pergi jarak ini dikalikan dua. Silam, saya pernah ngenger, bersekolah selama satu tahun di kota Sibolga dengan alasan belajar mandiri dari kakek (almarhum) yang konon telah sukses menggembleng semua putra-putrinya dalam perihal integritas, ketrampilan dan disiplin. Jalan darat pun pernah saya tempuh dulu yaitu dari Jakarta ke Sibolga melewati jalan lintas Sumatra yang diawali dari provinsi Lampung. Kali terakhir saya menyambangi Sibolga adalah pada tahun 1994 ketika kakek tercinta menghembuskan nafas terakhir.
Sebuah kebiasaan bagi keluarga yang tinggal berbeda pulau melakukan perjalanan darat. Selain biaya pesawat yang tidak terjangkau, ada esensi yang bisa dipetik dalam setiap bentuk perjalanan. Secara makro, pelaku perjalanan sudah pasti bisa menyaksikan begitu nyata dan indahnya pemandangan alam dan begitu kayanya negara Indonesia dalam berbagai konteks sumber daya alam. Bagi saya yang lahir di Jakarta dan besar di berbagai negara maju, perjalanan tersebut membantu pikiran saya lebih lentur dan secara acak merangkum beragam ide.
Dulu dan sekarang selalu penuh dengan perbedaan. Bukan saja dalam visual fisik yang terlihat namun penerimaan kita terhadap semua obyek yang ada di depan mata juga ikut berbeda. Ketika masih berusia belasan saya memaknai perjalanan ke Sibolga dalam bingkai keindahan semata. Bingkai pemikiran itu sangat jauh berbeda dengan perjalanan terbaru dimana saya telah mendiami kota Medan selama dua tahun terakhir bersama keluarga. Saya memang bukan seorang petinggi yang memiliki jam terbang atau agenda kerja mengunjungi beragam kota di 33 provinsi Indonesia dengan teratur, namun pengalaman ini menjadi bagian dari sujud syukur saya terhadap Allah Maha Besar.
Masa depan memang tidak pernah bisa dikarang dan saya merasa beruntung perjalanan hidup saya banyak menyentuh masalah sosial meskipun masih berada di sektor komersial. Selama saya tinggal di Medan, pengetahuan dan analisa saya terhadap pola dan sumber ekonomi penduduk semakin menebal. Kekuatan ekonomi di kota ini sangat didukung oleh pemasukan dari hasil penjualan komoditi (kelapa sawit, karet, kopi dan karet). Secara wacana saya menangkap kredit tersebut tapi perkebunan tersebut tidak berada di tengah kota dan perjalanan ini telah menjawab pertanyaan di benak.
Perjalanan kami menuju ke Pulau Samosir berjalan dengan baik. Kami sempat berhenti di kota Pematang Siantar yang terkenal dengan Roti Ganda dan Badak (Minum Sarsi) buatan daerah setempat. Sepanjang perjalanan saya melihat begitu banyak anak muda. Apa yang saya lihat adalah sekian persen dari angka populasi anak muda di Indonesia yang tercatat sebanyak 65 juta lebih. Mereka adalah penerus bangsa dan membutuhkan pendidikan untuk memacu produktifitas masa depan. Kepala saya tidak berhenti berpikir seputar kehidupan anak muda.
Para senior mereka banyak yang sudah tidak berada di kota yang sama, melainkah hijrah bahkan menjadi elemen urbanisasi ke Jakarta. Bahkan sebagian besar sudah tidak mau kembali lagi untuk menetap di kampung halaman dengan berbagai alasan. Diantaranya adalah karena sudah tidak ada sanak saudara yang menetap, standar kehidupan yang sudah berbeda atau secara lalai sengaja melupakan kota tersebut karena telah tergerus dengan hedonisme urban yang telah mengikat jiwa raga. Tragis memang tapi inilah realita yang terjadi di Pulau Sumatra yang sangat indah dengan kemagisan Bukit Barisan.
Pulau Sumatra kekurangan anak muda yang mapan, kebanyakan yang masih berada di sini adalah yang sedang belajar mapan atau harus meneruskan bisnis keluarga yang menjadi ekosistem bisnis utama. Bayangkan bilamana ribuan anak muda mapan mau kembali untuk berkolaborasi dan berinvestasi untuk memajukan beragam sektor bisnis maka stereotipe perkembangan mutu kependudukan akan jauh berbeda dengan apa yang saya lihat di bulan Agustus 2011 ini. Hal yang menyesakkan adalah ketika sampai di dermaga Ajibata (Parapat) yaitu penyeberangan kapal ferry ke Tomok (Toba Samosir). Tempat ini begitu sesak sampai dini hari oleh berbagai jenis kendaraan dengan tujuan pariwisata atau distribusi barang konsumsi. Tempat ini begitu kumuh dan tidak bersih.
Spontan saya ingin menyalahkan Pemkab yang menguasai tempat ini, tetapi saya teringat kalau dermaga dan ferry yang beroperasi masih dikelola oleh pihak swasta. Indeks penilaian atas danau vulkanik terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara ini tidak mendapatkan pengelolaan serius dengan standar Nasional, Regional bahkan Internasional. Panorama perairan Danau Toba dengan berbagai titik pandang tidak diperkuat dengan kenyamanan yang memadai. Inilah realita lain yang juga menjadi cerita sebagian besar penduduk dunia yang mampir ke area pariwisata ini. Belum lagi berbagai pihak kapitalis masih berusaha untuk mengamputasi kelestarian keindahan dengan mengoperasikan pabrik pulp, rayon dan bahan kimia.
Di pagi hari, bersama keluarga saya sempatkan menikmati daya pukau keindahan di sebuah dermaga kecil dan bertanya kepada pengusaha speed-boat mengenai biaya jasa berkeliling di Danau Toba dan sontak saya kaget mendengar bahwa harga yang ditawarkan adalah sebesar Rp. 300,000,-. Ini adalah realita dagang yang tidak pernah dibenahi dari alat ukur penduduk area pariwisata kepada pelancong. Mereka selalu mencari margin dengan volume pendek bukan sebaliknya yang didasarkan terbatasnya kesempatan perbandingan. Pendidikan bisnis dasar yang baik sangat dibutuhkan untuk memperpanjang dan mengembangkan usaha bisnis jasa di sana.
Danau Toba memang sudah tidak sehebat dulu bila secara acak membaca testimoni dari berbagai senior yang pernah singgah atau menghabiskan waktu kecil di daerah ini. Seharusnya dengan kembalinya minat setiap orang kea lam, daya tarik pariwisata khususnya wisata budaya diusahakan agar mempertahankan keunikan. Tumbuhan khas seperti andalehat, andaliman, andulpak, antara, bosibosi, haramonting, gapura, mobe, salamahia, sotul yang merupakan warisan rempah terancam punah karena penggundulan dan konversi hutan alam. Keseimbangan aspek biofisik, ekoturisme, sosio-ekonomi dan seni budaya selayaknya dikelola secara integratif oleh kita semua.
Saya tidak melihat keberhasilan modernisasi di sana. Ketertinggalan ini adalah kesengajaan dari para penentuk kebijakan yang tidak memiliki moralitas sebagai khalifah dalam menjaga bumi dan seisinya. Periode kemakmuran Danau Toba sudah menurun jauh. Bahkan lagu O Tao Toba karya Nahum Situmorang sudah tidak bisa menggetarkan sanubari saat berada di sana secara absolut. Saya menangis menahan air mata karena keindahan ini tidak bisa lagi mengisi relung jiwa. Pemerintah Daerah kehabisan enerji karena memikirkan bagaimana memperkaya diri dan semua fungsi koordinasi tidak dijalankan dan dikontrol dengan baik.
Juga bukan rahasia umum bila oknum penguasa memeras pengusaha sehingga gerah untuk berinvestasi. Bom waktu pasti akan meledak suatu saat. Melestarikan Danau Toba adalah parsipatif, tugas semua orang, semua pihak terutama pemerintah, LSM dan institusi lokal yang berakar di sana. Semua masalah tersebut harus dikelola dan diinventaris secara penuh dan tidak akan selesai meskipun dilakukan Pesta Danau Toba. Saya membayangkan bila Community Development Program diaplikasikan disana secara konsisten maka selama lima tahun ke depan, produktifitas atas pelestarian area memiliki perubahan.
RAWAN LONGSOR
Kemirisan hati saya tidak bisa saya tutupi, saya cuma sehari berada di Pulau ini dan segera melanjuti perjalanan mengarah ke Sibolga. Sebagai orang batak yang mencintai budaya, saat itu saya tidak bisa pura-pura senang dan memikirkan kesejukan berada di Senayan City. Saya berdoa agar bisa terjawab oleh generasi selanjutnya di muka bumi ini. Perjalanan kami menuju Balige dan Tarutung tidak senyaman ke Parapat, jalanan lintas yang dilewati kondisinya tidak baik dan rawan longsor. Apalagi saat kami berada di tengah hutan yang gelap, curah hujan turun lumayan deras dan membuat jalan menjadi licin.
Hampir dini hari akhirnya kami sampai di Sibolga “Kota Berbilang Kaum”. Daerah yang terkenal dengan pelabuhan strategis yang menjadi tempat penyeberangan ke Pulau Nias dan kaya akan hasil laut. Kami bermalam di sebuah hotel ekonomis “Bumi Asih” di daerah Pantai Pandan. Hotel ini telah beroperasi selama 4 tahun terakhir dan berbintang empat. Tetapi karena berdekatan dengan kawasan pariwisata umum, maka klasifikasi tersebut tidak teraplikasi dengan baik. Berbeda dengan Sol Elite Marbella di Anyer.
Kota Sibolga terletak di Pantai Barat Pulau Sumatera Bagian Utara yaitu di Teluk Tapian Nauli, Kota Sibolga secara administratif terdiri dari 3 Kecamatan dan 16 Kelurahan dan Luas 2.778 Ha atau 27, 78 Km², dengan jumlah penduduk 86.441 jiwa. Tidak banyak yang berubah dari Sibolga. Objek wisata peninggalan sejarah diantaranya adalah Gua Sikaje-Kaje, Gua Tangga Seratus, Benteng Sihopo-hopo, Benteng di Simaremare, Benteng di Bukit Ketapang dan Pulau Poncan Gadang yang menjadi basis tentara Jepang.
Di desa Barangan, Sibolga kami menyempatkan waktu untuk berziarah ke kompleks pemakaman leluhur yang bukan main luasnya. Dengan kemampuan berbahasa Batak yang lumayan, saya berbicara dengan kerabat yang menemani momen penting saat itu. Saya berharap agar sanak famili yang lain menyempatkan diri datang ke kampung halaman meskipun telah melanglang buana ke London, Sydney, Melbourne, Jepang, Dubai dan benua lain. Saya selalu yakin bila level of wisdom setiap orang akan selalu berkembang bilamana mensyukuri kehidupan dan generasi yang ada.
Dulu kota ini menjadi pintu gerbang ekspor dan impor dan perniagaan menjadi sektor nomor wahid. Namun kebijakan baru telah meninggalkan kekuatan bersaing kota ini dan hanya menyisakan memori. Dua buah bioskop sederhana yang bernama Horas dan Tagor sudah tidak berfungsi bahkan telah menjadi ruko yang digunakan sebagai gudang penyimpanan barang. Saya juga tidak melihat lagi banyak turis manca negara berkeliaran di Sibolga. Dulu saya malah sempat menjadi pemandu wisata berbayar. Kehilangan ini bukan hanya terjadi di daerah ini, masih banyak provinsi lain yang memiliki nasib serupa.
Setelah puas mencicipi beragam masakan khas Sibolga kami pun bergerak kembali mengarah ke Medan melalui Padang Sidempuan, Aek Nopan, Rantau Prapat. Cukup terhibur ketika berada di Sidempuan, dimana saya melihat Bespa (Becak Vespa) dan penjualan salak yang megah. Sepanjang jalan lintas yang ada hanya pemandangan perkebunan kelapa sawit dan karet multi hektar. Negara Indonesia adalah negara kaya yang selalu ingin dikuasai oleh bangsa lain. Ketika perjalanan pulang, saya tidak banyak berbicara lagi hanya menikmati kesedihan sebagai penduduk yang tidak bisa menikmati kekayaan negara sepenuhnya.
Semoga tulisan ini menjadi cermin yang memiliki refleksi positif terhadap semua insan yang memiliki kampung halaman dari setiap leluhurnya. Bilamana ada kesempatan siapkanlah perjalanan ke Sibolga. @2011aldosianturi/Photo Ferry (matamatanews)



membaca seluruh blog, cukup bagus