SOCIAL JOURNALIST
Kemarin pagi tanggal 12 Juli 2012, saya datang ke Hotel Pullman, Jl. M.H. Thamrin 59, Jakarta Pusat untuk mengikuti Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Indonesia dengan topik “Media Literasi pada Era Digital, Kontradiksi antara Jurnalisme dan Sosial Media”. Menurut saya, seminar ini terbilang sukses, dimana secara sederhana dapat dinilai dari jumlah kehadiran peserta seminar yang oleh panitia terdata kurang lebih sekitar 200 orang dari beragam latar belakang baik media dan non media seperti wartawan dan LSM. Acara tersebut sekaligus menjadi networking spot yang efektif dalam menyambut ulang tahun AJI ke 18 yang jatuh pada tanggal 7 Agustus 2012 mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, saya hanya berkesempatan mengikuti satu sesi seminar yang membahas “Media Menghadapi Era Digital dan Revolusi Sosial Media”. Sesi ini menghadirkan beberapa pembicara yaitu Akhmad Kusaeni (Wakil Pemimpin Redaksi Kantor Berita Antara), Enda Nasution (Direktur Saling Silang / Blogger) dan Hanny Kusumawati (Maverick) yang mengangkat sebuah hasil riset yang dapat diunduh di http://www.slideshare.net/MaverickIndonesia/revised-edition-indonesian-journalists-technographic-report-201112. Dipandu oleh Ratna (Kompas TV), setiap pembicara berdialog secara terbuka sambil memberikan pandangan progresif sekaligus pola pendekatan yang saling berbeda namun menarik untuk dipahami maknanya. Seperti dijadwalkan, Dahlan Iskan hadir pada sesi ini namun karena sesuatu hal maka beliau hadir pada sesi kedua.
Yang dibahas pada seminar tersebut bukanlah kontradiksi semata tetapi meruangnya perang perspektif antara jurnalis dengan platform sosial media yang memiliki dua sisi mata uang yaitu mengganggu dan membantu. Mengganggu atas proses kehadiran sebuah berita ke masyarakat dan pemangkasan kebutuhan berita yang bersumber dari wartawan dan platform sosial media menjadi kanal yang dipakai sebagai alat bantu para jurnalis dalam verifikasi konten. Melalui seminar ini, media tradisional diamini tidak akan pernah hilang dari kehidupan manusia di muka bumi meskipun setiap saat akan lahir media baru atas kemapanan teknologi.
Perubahan konsumsi media memberikan pengaruh bisnis dalam konteks pemasukan keuangan yang berkurang di jalur tradisional. Namun, medium digital memang memiliki skala promosi dan distribusi yang lebih luas agar sebuah media dikenali di berbagai lokasi yang selama ini membutuhkan banyak biaya operasional untuk didatangi. Inilah babak baru Pesta Demokrasi, dimana setiap pebisnis dan konsumen dalam waktu bersamaan memiliki pengalaman yang dapat dipetik hikmah dan hasilnya melalui medium online dan offline. Untuk itu, jurnalis hari ini harus lebih lentur dalam melihat perubahan dan memiliki strategi lain dalam menciptakan varian komunikasi yang dapat dimonetisasi. Reputasi media hari ini dipertaruhkan dengan manajemen resiko yang baik dan berbudaya.
Bagi setiap jurnalis dan pebisnis media yang memiliki kepekaan dalam mengkonfigurasi keadaan pasar media abad baru ini, saya menyebutnya sebagai “Social Journalist”. Dimana jurnalis tetap berada pada fitrah positif dalam mengembangkan potensi komunitas melalui setiap berita yang diwartakan. Jurnalis hari ini harus dapat mengontrol hawa nafsu untuk menguasai market-share seperti ambisi media pada umumnya. Setiap media memiliki cetak biru, diferensiasi dan value proposition yang saling berbeda dan menonjol untuk diapresiasi. Media harus mengatur ritme bisnis sesuai dengan porsi konten dan konteks yang pada hakikatnya hadir bukan untuk persoalan penjualan semata.
Kemudahan masyarakat memiliki telepon pintar menjadi salah satu pemicu perubahan dinamika pembaca hari ini. Masyarakat menjadi latah dalam urusan waktu tiba sebuah berita. Semua merasa haus dan harus lebih dulu mendapatkan sebuah berita tanpa melihat keabsahan dan akurasi atas berita tersebut. Masyarakat hari ini tidak malas dalam membaca namun cenderung lebih malas berpikir. Faktor ini juga didominasi oleh begitu banyak konten berita yang datang secara bersamaan untuk diserap secara inderawi. Tantangan media hari ini adalah membenahi diri sendiri dalam memberikan sebuah pelayanan pemberitaan yang berpegang teguh kepada realitas dan murni diangkat tanpa faktor suap yang selalu membayangi bisnis media.
Media adalah Sosial Media yang bersumber kepada kebebasan pewartaan. Dengan adanya pengesahan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE) di Indonesia maka paling tidak setiap orang memiliki kompas sebagai pedoman dalam menjalankan peran sosial dalam beragam platform yang saling berbeda. Masih banyak masyarakat yang awam dengan seluk beluk media, semoga sebagai Social Journalist hari ini, kita dapat memberikan parsial-parsial dalam beragam bentuk guna menyampaikan beragam perubahan sudut pandang dan pemahaman jurnalisme dasar agar media tidak salah kaprah dimengerti ideologinya.
Saya yakin, teman-teman di AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Indonesia mengambil banyak masukan atas dialog, respon dan logika yang mengerucut kepada postur media hari ini di Indonesia. Saya berharap agar aliansi ini lebih proaktif membuka pemikiran radikal kepada generasi baru yang sangat membutuhkan cara pandang terhadap media dan metamorfosanya. Selamat hari jadi ke 18 tahun bagi AJI dan semoga semakin matang dalam mengintegrasikan semua perencanaan kerja dan pengembangan bisnisnya. © 2012 Aldo Sianturi | Photo: http://www.vegas-times.com/twitter-journalism1.jpg



