SAFIR SENDUK “PENGHASILAN MUSISI”
Musik penuh keceriaan dan kebahagiaan. Semakin lama kita menguasai bidang ini, maka semakin banyak pula teman dan peluang kita untuk mendapatkan rezeki. Namun sambil menjalani kegembiraan itu banyak orang yang tidak ingat akan diri dan perencanaan keuangan untuk masa depan. Akhirnya kebablasan dan berujung kepada kehampaan investasi atau tabungan. Menjadi musisi jaman sekarang bukan berarti mengulang-ulang kesalahan sebagian besar musisi jaman dulu yang tidak peduli terhadap dirinya. Kini, semua harus lebih piawai mengelola pendapatan meski berapapun yang diterima.
Saya sangat peduli dengan Musisi. Bukan sebatas sepak terjang beralbum atau rekaman saja tapi bagaimana Musisi bisa menjalani kehidupan di dunia secara nyaman sampai masa tua nanti. Inilah bentuk sharing informasi di Blog Indiepreneur ini, dimana setiap orang bisa memetik manfaat positif untuk realita yang dipilih. Silakan dibaca dan dipikirkan matang-matang apa yang disampaikan sahabat saya Mas Safir Senduk yatu seorang Pakar Perencanaan Keuangan di Indonesia melalui Interweb kali ini. Follow beliau langsung di Twitter dengan ID @SafirSenduk dan berkoneksilah.
1. Mas Safir Senduk, thanks for your time and please tell us a little bit about yourself and your business? Nama saya Safir Senduk, lahir 19 Des 73. Profesi saya Perencana Keuangan yaitu seseorang yang bertugas membuat saran Rencana Keuangan bagi klien dalam mencapai Tujuan-tujuan Keuangannya. Pada tahun 1998, saya mendirikan Safir Senduk & Rekan, sebuah Biro Perencanaan Keuangan yang tugasnya membantu klien (Perorangan & Keluarga) dalam mencapai Tujuan-tujuan Keuangan seperti:
Tujuan2 Jk Pendek (spt. bagaimana mengelola penghasilan, membayar pengeluaran-pengeluaran agar efektif, dsb)
Tujuan2 Jk Menengah (spt. bagaimana membeli Kendaraan & Rumah dalam 1-5 tahun ke depan)
Tujuan2 Jk Panjang (spt. bagaimana Mempersiapkan Pensiun dan Uang Sekolah Anak dalam Jk Panjang)
Dalam perkembangannya, kantor Safir Senduk & Rekan sekarang memiliki 3 Konsultan Perencana Keuangan (termasuk saya), dan aktifitasnya ada 3:
Memberikan Konsultasi kepada Klien (perorangan & keluarga),
Memiliki Rubrik berupa Tulisan maupun Suara di Sejumlah Media Massa Umum & Internal Perusahaan tentang Perencanaan Keuangan,
Memberikan Seminar & Pelatihan kepada Umum maupun Internal Perusahaan, dengan topik perencanaan keuangan. Contoh: “Bagaimana Karyawan bisa Mengelola Gaji agar Sejahtera.
Secara pribadi, saat ini saya telah menulis 10 buku tentang Perencanaan Keuangan, yg saya tulis dalam rentang waktu 1999 s/d 2009 lalu. Semua diterbitkan oleh Penerbit PT Elex Media Komputindo.
2. Bagaimana kiat merencanakan keuangan yang efektif untuk para pekerja kreatif di bidang musik? Realitanya pemasukan yang diterima adalah tidak tetap atau per proyek bukan seperti pegawai perusahaan yang menerima gaji bulanan? Gampang!
Menabunglah setiap kali dapat Penghasilan. Kalau Karyawan mendapatkan Penghasilan 1x /bln setiap tgl 1 misalnya, maka sebaiknya dia langsung menabung setiap kali dia dapat gaji. Nah, kalau Musisi, dimana penghasilannya per project, misalnya setiapkali mencipta lagu terus membantu musisi rekaman sampai lagu itu bener2 jadi, terus dia langsung dapat honor Rp 10 jt misalnya (mohon koreksi kalau angkanya kerendahan atau ketinggian), maka sebaiknya langsung tabungkan sebagian dari Honor tersebut. Minimal 10%, kalau bisa Lebih ya lebih bagus.
Miliki Asuransi Kesehatan. Banyak Musisi yang tidak memiliki Jaminan Kesehatan kalau dia sakit. Gak masalah, dengan mengambil Asuransi Kesehatan, maka dia bisa merasa aman kalau terkena Risiko Sakit.
Kalau dia sudah punya Tanggungan seperti Keluarga, miliki juga Asuransi Jiwa. Jangan sampai kalau dia meninggal dunia, keluarganya terlantar. Kasian kan?
Punya Dana Cadangan. Ini penting karena ada beberapa musisi yang dapat duitnya gak tiap bulan, tapi kosong dulu 1-2 bulan, baru dapat duit lagi. Disini, Dana Cadangan bisa membantu dia menghidupi diri dan keluarganya selama Penghasilannya lagi Absen.
3. Ketika kebutuhan mendesak, sedangkan income belum pasti, apakah musisi memerlukan Kartu Kredit?Apakah cara kredit membantu atau justru memberatkan? Apa kiat yang baik dalam menggunakan layanan kartu kredit ini?
Kredit bisa sangat membantu bagi mereka yang penghasilannya tidak tetap. Dengan penghasilan tidak tetap, punya Kartu Kredit bisa membantu. Asalkan inget, pakai Kartu Kredit itu hanya untuk pengeluaran bulanan saja (Wajib+Butuh), bukan untuk membeli hal-hal yang sekedar kepengen (Ingin).
4. Bagaimana cara menabung yang baik di saat musisi punya kebiasaan menombok uang yang mau tidak mau harus dipinjam lebih dulu untuk kebutuhan transportasi atau penampilan?
Cara Menabung yang baik: Menabunglah di depan, di awal begitu Honor di dapat. Jangan dibelakang setelah uangnya dipakai belanja. Nanti uangnya habis terus jadinya gak ada yang bisa ditabung.
Jangan tabungkan ke Produk Investasi yg Uangnya gampang diambil, tapi tabungkan ke Produk Investasi kayak Tabungan Berjangka, atau Reksa Dana.
5. Apakah penting bagi musisi untuk memiliki Asuransi? Bentuk asuransi apakah yang baik diinvestasikan oleh musisi yang masih berstatus lajang dan yang sudah menikah dengan memiliki anak?
Penting. Sudah dijawab di tips 2 dan 3 di Pertanyaan Nomor 1 tadi. Buat yg Masih Lajang: Asuransi Kesehatan. Buat yang sudah berkeluarga: Asuransi Kesehatan + Asuransi Jiwa.
6. Investasi semacam apa yg sesuai untuk orang musik dimana income yang belum stabil? Apakah musisi bisa mencicil tempat tinggal? Apakah harus membeli emas batangan? Apakah masukan yang paling masuk akal agar hari tua musisi bisa nyaman?
Investasi yg cocok untuk Orang Musik yg Penghasilannya belum stabil adalah investasi yang Tidak Mudah Dijual, tapi juga Tidak Sulit Sekali untuk Dicairkan. Deposito masih oke, karena dia bisa diambil yg Jk Waktu 1 Bulan. Reksa Dana juga oke, karena 4 hari kerja juga udah bisa dicairkan.
Beli Emas Batangan boleh, tapi pastikan kita punya Deposito & Reksa Dana dulu. Ini karena Emas Batangan kan bukan Investasi yg Likuid Sekali. Untuk Persiapan Hari Tua, coba pertimbangkan untuk menabung buat beli Rumah, yg ujung2nya nanti disewakan/dikontrakkan. Hidup dari Rumah diKontrakkan atau diKos2an kan sangat cocok untuk Hari Tua Musisi. Asal jangan dari 1 rumah, tapi beberapa rumah. Makanya cari project yg banyak biar bisa beli rumah.
7. Bila beruntung memiliki pendapatan besar dari penjualan album, ringbacktone, iklan dan lain2, seperti apakah keputusan musisi untuk menginventasikan uangnya ke inventaris produksi seperti alat musik/ alat perekam? Berapa persen rasio penghasilan yang harus tetap ditabung?
Alat Musik sangat2 penting buat Musisi. Berapapun harganya, kalau memang dibutuhkan, beli. Tapi pastikan bahwa barang yang mau dibeli tersebut memang betul-betul dibutuhkan. Bukan sekedar kepengen beli karena LAPAR MATA. Yang terakhir ini soalnya yang banyak terjadi: sebenarnya sih cuma ingin aja, tapi ngomongnya butuh. Itu excuse namanya. Berapa persen penghasilan dari project2 musisi yang sebaiknya ditabung? Minimal 10%. Lebih boleh, kurang jangan.
8. Sentralisasi bisnis musik masih terpusat di Ibukota yaitu Jakarta. Bagaimana pandangan Mas Safir Senduk terhadap musisi yang pindah kota karena tidak sanggup menutup pengeluaran regular yang harus dibayar setiap waktunya? Apa yang terbaik bila kondisi-nya seperti ini?
Gakpapa juga. Salah satu cara menghadapinya adalah mencari job2 musik yang memang tidak terlalu sering membutuhkan pekerjaan yang bersentuhan dengan lain orang di kota lain. Menulis Lagu misalnya (mohon koreksi kalau saya salah). Di bidang saya, orang yang menulis buku bisa menulis buku dengan sangat2 bagus sementara dia tinggal di kota pedalaman. Begitu bukunya jadi, dia tinggal kirim ke penerbit di Jakarta. Kalau penerbitnya minta ketemu, baru dia terbang ke Jkt untuk ketemu.
9. Bagi para musisi yang kondisi finansial-nya belum stabil dan mau mengolah uangnya di bidang bisnis yang lain, hal apa saja yang penting dicatat sebelum segalanya dimulai?
Pastikan bahwa musisi itu harus tetap menanamkan cita2 yg kuat di pikirannya tentang mana keberhasilan utama yang lebih ingin dikejarnya. Kalau seorang musisi yang belum begitu stabil kemudian dia mengolah uangnya dalam bentuk restoran kecil di rumahnya, gpp juga. Yang penting dia tetap harus punya cita2 bahwa dia tetap harus berhasil di industri musik. Mungkin dengan penghasilannya dari bisnis lain, dia jadi punya modal untuk bikin album sendiri mungkin?
10. Apakah penting bagi musisi menciptakan tim manajemen untuk mengelola pemasukan yang didapat dari berbagai sumber? Karena tidak mengerti latar belakang manajemen keuangan, apa yang terbaik dilakukan musisi tersebut agar semua pada tempatnya?
Penting sekali, biarpun mungkin bukan keharusan. Tapi kalau memang bisa, sangat bagus. Jadinya dia bisa konsen ke Kerja Kreatif.
11. Musisi seringkali lemah bilamana berhadapan dengan gaya hidup menghamburkan uang membeli minuman keras atau membeli banyak barang yang tidak perlu. Bagaimana masukan Mas Safir Senduk agar masa tua musisi bisa lebih nyaman secara finansial?
Minuman Keras dan Narkoba seringkali diidentikkan dengan profesi tertentu. Ini menurut saya tidak adil karena gak semua profesi tertentu seperti itu. Banyak musisi yang saya yakin bersih dan bekerja dengan baik tanpa gangguan semua itu. Menurut saya sih, kita harus pintar2 mengatur lingkungan kita. Kalau memang kita mendapatkan lingkungan yg tidak baik, perkuat diri kita dengan iman. Masa Tua Musisi supaya lebih nyaman secara financial bisa diraih dengan cara menabung & investasi. Gak ada cara lain. Kalau Indonesia punya Dasar Negara seperti Pancasila & UUD 1945, maka dalam keuangan, dasarnya adalah Investasi. Ingatlah bahwa Mengeluarkan Uang itu 5x lebih gampang daripada Mendapatkannya. Contoh: Gak gampang cari perusahaan yang mau ngundang kita untuk manggung musik di acara mereka. Perlu usaha keras. Tapi begitu uang sudah di tangan, hari ini Anda keluar mal pun uang itu bisa langsung habis. Jadi supaya masa tua musisi bisa nyaman, pegang baik-baik uang yang memang sudah di tangan, dan investkan ke investasi yang memang menghasilkan..
12. Apakah musisi harus rutin setiap tahun bekerjasama dengan konsultan pajak dan konsultan keuangan guna menghilangkan keresahan-keresahan dalam hal finansial?
Kalau Ordernya banyak dan bervariasi, Konsultan Pajak perlu. Konsultasi dengan Perencana Keuangan saya pikir juga perlu. Ibarat orang yg tersesat dalam hutan, seringkali seseorang tidak bisa lolos dari hutan karena pandangannya tertutup kabut dan banyaknya pohon. Tapi kalau ada seseorang dari atas helicopter mendatangi dia dari atas, orang itu – karena viewnya lebih luas – bisa menuntun orang yg tersesat ini keluar hutan. Artinya, seringkali orang terlibat terlalu dalam dengan kondisinya sendiri sehingga seringkali dia jadi tidak obyektif, sehingga peran orang yang pikirannya masih ‘clear’ dan obyektif bisa membantu dia keluar dari segala masalahnya.
13. Bilamana musisi memiliki kesempatan pergi ke luar negeri karena diundang tampil atau berlibur, bagaimana kiat mengelola keuangan agar tidak bablas dan kembali dengan kondisi minim kembali?
Jangan Lapar Mata. Kalau mau beli alat musik di Luar Negeri, pastikan: Alat itu memang dibutuhkan. Alat itu memang tidak ada di Indonesia atau kalaupun ada, jauh lebih murah kalau beli diluar dan dia memang belum punya.
Tanamkan dalam pikiran bahwa penghasilan dolar itu dan bisa ditabungkan untuk persiapan masa depan. Ingat bahwa Penghasilan Dolar itu gak gampang didapat. Ingat kata saya: Mengeluarkan Uang 5x Lebih Mudah daripada Mendapatkannya.
14. Musisi sekarang mau tidak mau harus dekat dengan sumber informasi dan proaktif melakukan komunikasi, bagaimana hal yang baik untuk mengatur keuangan untuk biaya komunikasi?
Komunikasi gak selalu harus dengan telfon. Sekarang internet sudah bisa banyak membantu memurahkan biaya komunikasi kita. Dan ingat, berkomunikasi itu – bagi profesi apapun – adalah suatu keharusan. Tipsnya: jangan berkomunikasi hanya kalau lagi butuh. Ikut gabung di komunitas milis, ikut fesbuk, ikut twitter, say hai, pastikan bahwa kita exist dan ada. Order bisa datang kalau kita menunjukkan keberadaan kita.@2010aldosianturi / Photo Credit: Property of Safir Senduk & Rekan


