MUSIK PESAWAT KURANG DIRAWAT
Migrasi penumpang bus dan kereta api ke pesawat terbang dalam jumlah besar menjadi serial unik untuk diteropong lebih dekat. Melalui platform sosial media, para penumpang tidak merasa sungkan untuk menyampaikan pelayanan yang diterima baik bermuatan positif maupun sebaliknya.. Mulai pagi hari, para komuter transportasi jarak pendek telah menduduki bandara untuk menempuh berbagai rute perjalanan. Faktor ini memicu berkembangnya bisnis pesawat LCC (Low-Cost Carrier). Presiden Filipina, Benigno Simeon Aquino III bahkan tidak merasa segan menggunakan Cebu Pacific (LCC) saat melakukan lawatan ke Jakarta, Indonesia.
Baik di low season, high season bahkan peak season, lonjakan penumpang pesawat selalu menunjukkan angka gemuk bagi penerbangan domestik Asia Tenggara. Setiap maskapai penerbangan bersaing ketat untuk memimpin pasar dengan berbagai dinamika pelayanan yang ditujukan kepada kepuasan penumpang sehingga dapat melakukan pembelian ulang. Berbagai komponen bauran pemasaran seperti harga tiket, reservasi, ketepatan waktu, fasilitas restroom, keamanan bagasi sampai pelayanan di atas pesawat menjadi perhatian utama guna menciptakan persepsi konsumen positif. Tidak semua berhasil dalam mengelola Business Process yang baik, namun beberapa telah menunjukkan dengan menancapkan reputasi pelayanan yang baik.
Salah satu pelayanan yang menjadi perhatian konsumen adalah In-Flight Entertainment yang menghantarkan nilai tambah pada maskapai penerbangan. Elemen hiburan ini juga mencakup pre/after-flight music yang diperdengarkan saat pesawat sedang boarding dan taxi. Trialabilitas atas pelayanan ini telah dapat dianalisa untuk dikembangkan melalui beragam testimoni yang selama ini telah diterima. Pada masa boarding time, suasana kabin pesawat selalu riuh atas aktifitas penumpang menempati tempat duduk dan menyimpan barang bawaan pada overhead.
Selain bahasa tubuh para awak pesawat yang baik, alunan musik juga berperan sebagai mood booster bagi penumpang pesawat sekaligus berkontribusi untuk atmosfir kabin pada suasana akan terbang Namun, aspek musik masih belum disentuh, diamati dan dikembangkan oleh maskapi penerbangan. Secara acak para penumpang reguler menyampaikan keberatan dan kebosanan atas alunan musik yang diperdengarkan. Contohnya adalah musik dari Kenny G dan Peter Cetera yang cukup terpatri di benak para pengguna LCC. Sebagian juga pernah mendengar lagu Once – Kujanjikan Aku Ada. Semua saling berbeda. Musik Instrumental juga menjadi pilihan yang dipercaya mencapai spirit The Art of Flying.
Dalam perspektif bisnis musik, alunan nada tersebut adalah sebuah dukungan promosi yang baik terhadap penumpang pesawat. Sebagian pebisnis pasti telah memiliki niat untuk melakukan negosiasi untuk mempromosikan produk musiknya yang notabene belum tentu membuat suasana menjadi nyaman. Dalam pengamatan sederhana sangat disayangkan jika maskapai penerbangan tidak berusaha untuk memilih dan menyajikan Musik Indonesia sebagai musik penghantar utama. Terkadang sebagian besar dari kita tidak ingat dimana kita sedang menetap dan seberapa penting mengkomunikasikan Indonesia melalui beragam kanal.
Perusahaan penerbangan harus memiliki integritas meskipun memakai jasa pihak ketiga sebagai penyedia konten Musik Indonesia untuk kebutuhan hiburan during flight. Terlebih bila menyentuh ranah perpustakaan audio In-Flight Entertainment milik Garuda Indonesia Airways (GIA) yang masih sangat terbatas seleksinya di Boeing 747-400 dan Airbus 330-300. Sudah menjadi harga mati bagi maskapai penerbangan Indonesia menggunakan jasa konsultasi yang piawai terhadap konten musik domestik yang akan mengundang ekspresi puas dari penumpang lintas generasi. Kelengahan ini sudah pasti dipergunakan oleh maskapai luar negeri guna mengalihkan minat penumpang melalui pelayanan yang lebih tepat sasaran.
Musik adalah sebuah konten spesial yang mampu mempertemukan titik temu kepuasan konsumen.Kini adalah waktu yang terbaik untuk segera menyiapkan katalog yang lebih baik atau mengeksekusi pelayanan inovatif yang mampu menciptakan sebuah brand equity yang baik. Contoh lain adalah apa yang dilakukan oleh Southwest Airlines yang melayani rute ekslusif di benua Amerika. Maskapai ini hadir dengan perbedaan yang didasari inisiatif gemilang yaitu menyatu dengan para penumpang. Saat menyampaikan prosedur keamanan, crew pesawat ini kreatif dengan gaya meracau (rapp) yang melibatkan penumpang sambil bertepuk tangan dan menghentakkan kaki.
Service Community Mindset seperti ini boleh terlihat sepele namun di lain sisi menjadi sebuah diferensiasi yang sudah pasti berkontribusi kepada volume penjualan. Musik Indonesia adalah tuan rumah yang ingin diketahui oleh bangsa lain yang mengunjungi negara. @2011aldosianturi/Photo: http://www.balier.info/menu-garuda/goc/goc-html/goc-indo-zwei.html, Pribadi, Istimewa

