MUSEUM MARKETING: 3K (KONTEN, KONTEKS & KRITIK)

On 22/06/2011 by Aldo Sianturi

Minggu lalu saya berada di Bali atas undangan Waizly Darwin – Chief Operations (Marketeers Media Fleet) untuk mengunjungi Museum Marketing 3.0: Inspired by Tjokorda Gde Agung Sukawati. Perjalanan ini sangat menarik, karena ternyata ada beberapa blogger yang  juga diundang dalam waktu bersamaan. Di Medan sendiri, saya mempelajari seluk beluk museum melalui sahabat saya Mr. Fon Prawira yaitu cucu dari Tjong A Fie yang melestarikan Tjong A Fie Mansion  yang didirikan pada tahun 1886 di Kesawan Square, Medan, Sumatera Utara. Mansion ini merupakan amazing heritage perpaduan multikultur dunia yakni Art Deco, China, Barat dan Islam.

Sejak peletakan batu pertama keberadaan Museum Marketing bersinggungan dengan beragam kritik. Meski gagasan menarik ini mendapat dukungan penuh dari keluarga kerajaan Ubud namun tetap tidak luput bersinggungan dengan protes dari sebagian masyarakat Bali. Letak protesnya bukan pada  konteks marketing yang diselebrasikan, namun kepada pemilihan tempat yang sejatinya dianggap sebagai domain spiritual  dan seni yang dijaga indeks sterilitasnya. Pendeknya penduduk Bali lebih mendukung kehadiran The Blanco Renaissance Museum dan Rudana yang murni bermuatan seni. Hadir di jaman transparansi, ekspresi itu disampaikan melalui medium sosial media dan belum direspon secara persuasif.

Kontroversi ini mengingatkan saya atas kehadiran Buddha-Bar yang sempat menuai protes panjang dari Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi). Bar mentereng di kawasan Menteng yang memiliki filosofi “East Meets West” pada akhirnya berhenti beroperasi karena berbagai faktor bisnis. Tempat ini pun  telah berganti nama menjadi Bistro Boulevard dan menyumbangkan patung Buddha ke sebuah vihara di Jawa Tengah. Protes serupa bukan hanya di Indonesia. Dalam waktu bersamaan, The National Museum of China juga sedang menghadapi ekspresi publik atas keleluasan yang diberikan pihak pengelola kepada brand Louis Vuitton.

Masyarakat China menuduh pihak museum telah merestui komersilisasi yang berseberangan dengan memberikan izin bagi Louis Vuitton  mengadakan pameran disain yang berlangsung sampai Tanggal 30 Agustus 2011 mendatang. Namun keluhan yang disampaikan tidak dihiraukan oleh Asosiasi Peninggalan Budaya China. Pameran berjudul “Louis Vuitton Voyages” yang menandai kehadiran luxury fashion-brand  Prancis di China selama 20 tahun, tetap dibuka dan dipenuhi dengan beragam instalasi yang dikuratori oleh beberapa seniman. Beberapa cerita ini menunjukkan bahwa argumentasi yang mendasari kontroversi bisa direkonsiliasi dengan pendekatan komunikasi yang terbuka.

Bloggers with Ubud Royal Family

Beberapa Kerabat Marketeers Media yang diundang ke Ubud adalah Handoko, Rara, Benny Chandra, Karmin Winarta, Ario Adimas, Venus, Pitra, Leony Julian, Cisca DV, Dicky Sukmana. Kami semua mendapatkan banyak informasi bernilai seputar perjalanan dan pengaruh seni yang menjadi kontribusi value bagi Ubud. Salah satunya adalah tokoh di belakang modernisasi seni Jawa dan Bali yang berkebangsaan Jerman yaitu Walter Spies. Ubud menjadi pilihan sakral baginya dalam mengkontribusikan karya cipta sebagai seorang pelukis, perupa dan pemusik. Beberapa nama lain yang juga berkesenian di Bali adalah Rudolf Bonnet, Hans Snell,  Collin McPhee, Ariel Smith dan lainnya.

Kami juga beruntung menyambangi Sungai Campuhan yang menyimpan beragam cerita mulai dari abad yang berbeda sampai beberapa waktu lalu sebagai tempat pengambilan gambar film Eat, Pray, Love yang dibintangi oleh Julia Roberts. Jelajah wisata alam dan seni yang dipandu oleh Bembi Dwi Indrio M. yaitu  penulis buku Ubud: The Spirit of Bali. Melalui beliau, kami diajak berkenalan dan berfoto bersama keluarga penerus darah biru kerajaan yaitu Tjokorda Gde Putra Artha Astawa Sukawati (Tjok Putra), Tjokorda Gde Oka Artha Ardana Sukawati (Tjok Ace) dan Tjokorda Gde Raka Artha Sedana Sukawati (Tjok ‘De) di Puri Saren yang berseberangan dengan Pasar Ubud atau Warung Babi Guling Ibu Oka.

Saat dipersilakan masuk ke kompleks Puri, beragam ukiran Bali yang berwarna keemasan (prada) menjadi visual premium yang layak untuk diabadikan. Ubud tak bisa disetarakan dengan dua obyek wisata utama di Bali yaitu Kuta dan Nusadua. Kuta berkesan physically wild dan Nusadua professionally peaceful, sedangkan Ubud naturally spiritual. Ibarat bawang, lapisan luarnya adalah Kuta dan Nusadua, dan lapisan terdalamnya adalah Ubud. Ubud adalah intisari Bali, yang hangat, ramah, organik dan punya “roh”.  Taksu adalah sebutan bagi kekuatan tak terlihat yang membuat Ubud sangat berbeda. Taksu yang membuat siapa saja yang menyambangi Ubud merasa terbarukan kembali.

Tiga pangeran inilah yang melanjutkan usaha ayahnya, raja terakhir Ubud. Kini mereka menjadi pelindung dan penyokong masyarakat, agar budaya dan tradisinya tetap terjaga sehingga Puri  Saren Agung  tidak sekadar  menjadi monumen bersejarah atau simbol budaya. Ubud diusahakan tetap mengikuti perubahan tanpa kehilangan karakter pentingnya, spirit yang tak dijumpai di tempat lain yang menjadi DNA Ubud yang memiliki arti Obat. Selama perjalanan dilakukan, saya berpikir untuk menemukan titik temu atas alasan realistis Museum Marketing 3.0: Inspired by Tjokorda Gde Agung Sukawati ini didirikan dan disokong oleh keluarga kerajaan di kompleks Museum Puri Lukisan.

Latar belakang profesi dan keluarga Puri Ubud yang bergerak di berbagai bidang menjadi sebuah jawaban dari  teka-teki dasar perjalanan ini. Drs Tjokorda Gde Putra Artha Astawa Sukawati (Tjok Putra) adalah Pengglisir (kepala keluarga Puri Ubud), Kepala Museum Puri Lukisan, Kepala Badan Penasihat Badan Promosi Pariwisata Bali, Kepala Dewan Komunitas Ubud, dan Presiden Direktur Pita Maha Hotel Group (Hotel Tjampuhan, Hotel Pita Maha, dan Hotel Royal Pita Maha) di Ubud.

DR Ir Tjokorda Gde Oka Artha Ardana Sukawati MSi (Tjok Ace) adalah Bupati Gianyar dan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) cabang Bali, dan dosen arsitektur di Universitas Udayana. Dia mendapat gelar doktor cum laude pada September 2008 dalam Studi Budaya Universitas Udayana. Sebelum jadi bupati, Tjok Ace adalah Deputi Presiden Direktur Pita Maha Hotel Group.

Drs Tjokorda Gde Raka Artha Sedana Sukawati MM (Tjok ‘De) adalah Managing Director Pita Maha Hotel Group, Wakil Bendesa (komunitas tradisional), serta dosen jurusan Marketing di Universitas Udayana. Saya meyakini bahwa profil dari pangeran terakhir ini yang menjadi perekat kerjasama antara Bapak Hermawan Kartajaya dengan Keluarga Puri Ubud yang dibukukan ke dalam buku Marketing 3.0  hasil analisa Iwan Setiawan yang berbasiskan konsep spiritual marketing yang sejatinya sudah diakrabi oleh kerajaan Ubud sejak tahun 1920.

Kini museum ini sudah berdiri dan menjadi bagian berita yang telah disiarkan melalui beragam medium komunikasi dan harus segera berbenah untuk mencari konten spiritual marketing dari wilayah Indonesia bukan hanya sebagai kompilasi kegairahan marketing budaya barat. Kontroversi yang masih meruang juga tidak bisa didiamkan, harus dihadapi dan diajak berkomunikasi untuk menjadi bagian dari semangat positif yang dibangun bersama. Local Wisdom menjadi poros utama apapun bentuk gagasan yang ditawarkan oleh kaum pendatang.

Konten dari Museum Marketing yang diklaim menjadi museum marketing pertama di dunia ini berisikan profil entrepreneur yang menurut alat ukur MarkPlus telah menjalani postur Marketing 3.0 seperti Apple, Virgin, Amazon dan sebagainya. Terkesan beberapa konten visual ini dihadirkan sebagai alat bantu dalam mengerti apa isi buku konsep Marketing 3.0. Museum ini membutuhkan kurator dan modal yang lebih banyak untuk menciptakan sebuah theatre in mind yang membantu captive & impulsive visitor mengerti misi dan visi hadirnya museum ini. Tanpa keseriusan dan pengembangan berjangka, maka mungkin museum ini hanya sesaat dan ramai di awal saja.

Museum berdasarkan definisi yang diberikan International Council of Museums (ICOM) adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan dan kesenangan. Silakan kritik lebih banyak agar Museum Marketing 3.0: Inspired by Tjokorda Gde Agung Sukawati bisa lebih baik di mata semua pecinta budaya Bali. Bagi saya pribadi, Museum Marketing tidak terlampau memusingkan kepala. Karena bisa saja setelah ini banyak tokoh daerah yang terinspirasi dan mulai berkontribusi dengan membuat Museum Sales, Museum Advertising dan Museum Hukum. Bagi saya yang penting adalah diri kita sendiri menjadi Living Museum bagi semua konten dan konteks yang dilewati bersama sebagai pilar peradaban. @2011aldosianturi /Photo: Benny Chandra,Istimewa

3 Responses to “MUSEUM MARKETING: 3K (KONTEN, KONTEKS & KRITIK)”

  • kw

    wow.. komplit, detail dan inspiratif!!!!
    (*knp baru main ke sini sekaran ya?) :)

  • febbylorentz

    whooaa?museum marketing??amazing…salute..mungkin nati study tour kampus2 khususnya fakultas ekonomi,bukan ke dufan atau parangtritis lagi..tapi ke sini ! :)

  • edan. kereeennn :) ) *mendadak minder mau nulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>