MIMPI KELAS MENENGAH

On 02/12/2011 by Aldo Sianturi

Kemarin, hari Kamis 1 Desember 2011, saya dan istri menghadiri Nielsen Marketing & Media Presentation 2011 di Ritz Carlton Hotel, Jakarta. Nielsen adalah perusahaan informasi integral dan media global. Dalam kesempatan tersebut, Catherine Eddy (Managing Director Consumer) mempresentasikan pertumbuhan ekonomi kelas menengah Indonesia yang terus meningkat atas peningkatan investasi dan produksi yang berlangsung selama ini. Membuka perjalanan fokus bisnis untuk awal tahun 2012, Nielsen memaparkan bahwa kelas menengah di Indonesia adalah lanskap yang dicirikan sebagai kekuatan penopang ekosistem bisnis di Indonesia.

Kontribusi individual selama ini sejalan dengan perkiraan industri perbankan atas potensi Indonesia mencapai pendapatan USD 3.000 per kapita pada 2020. Dari penelusuran Nielsen, pola belanja kelas menengah hari ini jauh berbeda dengan sebelumnya. Konsumen kelas menengah Indonesia selalu berusaha membeli produk yang memiliki nilai lebih sekaligus bereksperimen dengan beragam strategi penjualan yang dihadirkan baik melalui alat promosi maupun format produk. Kelas menengah yang diklasifikasikan oleh Nielsen adalah mereka yang membelanjakan Rp 1-2 juta uangnya untuk kebutuhan rumah tangga (makan, transportasi, listrik), keluarga baru yang masih hidup dengan mertua dan menempatkan sepeda motor sebagai pencapaian prestasi atas kerja keras.

Cukup unik menyimak laporan tahunan Nielsen, dimana Indonesia tidak bisa lepas dari kebutuhan dasar. Nielsen menyampaikan bahwa 3 primadona produk incaran kelas menengah adalah Es Krim, Mie dan Biskuit. Kehadiran multi varian produk menguasai realita konsumen impulsif. Catherine juga menyampaikan bahwa di Indonesia 48% dari populasi menguasai dan berkontribusi terhadap 44% total belanja Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Maka, konsumen kelas menengah telah membentuk retail platform yang solid. Dengan menjamurnya kegiatan usaha “convenient stores” atau mini market, konsumen kelas menengah merasa fleksibel untuk menyambangi tempat tersebut dengan rutinititas tingkat tinggi dibanding ke supermarket.

Yang  paling menarik adalah “Nilai Lebih” atas produk yang menjadi destinasi konsumen kelas menengah. Kelompok ini tidak akan pernah surut bermimpi untuk memiliki sesuatu yang baru, impresif dan berfungsi. Pekerjaan rumah bagi para pebisnis agar bisa mencapai volume penjualan baru tidak lain adalah mau melihat keadaan ekonomi dari perspektif kelas menengah. Pergesaran akan selalu terjadi di pasar luas dan tidak lain hanya strategi bertahan dan berjuang yang menjadi solusi utama membesarkan wilayah atau indeks penjualan yang ditargetkan. Selama kurang lebih dua jam, Nielsen juga menyoroti market behaviour konsumen kelas menengah.

Salah satu slide presentasi yang menggugah saya adalah meningkatnya jumlah pendengar Musik Indonesia sebesar 33% selama 5 tahun terakhir. Ini adalah sebuah statement yang harus diterjemahkan dalam konteks produksi oleh pelaku bisnis musik Indonesia dengan model bisnis yang mengacu kepada transparansi.

Indonesia adalah luas dan hadirnya idealisme sementara tanpa dasar dari seniman tidak akan menjadi sebuah kanvas panjang yang mampu menyumbangkan angka presentasi baru di tahun depan. Konsumen kelas menengah pun memiliki talenta seni dan sebagai pengunjung pasar maka kita tidak mampu untuk mengarahkan atau membunuh beragam karya musik yang lahir dari ekspresi sosial.@2011aldosianturi/Photo:Aldo, Twitter @nielsenindo

If you like this article, share it with others.

 

One Response to “MIMPI KELAS MENENGAH”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>