LEARNING BY TEACHING
Petang kemarin, saya berkesempatan menghadiri sebuah event Marketing bertajuk Marketeers Club Offline Gathering Medan bertempat di JW Marriott Medan. Sebuah kebahagiaan bertemu kembali dengan sesama penggiat marketing yaitu Eka, Redi dan Dr. Jacky Mussry dari MarkPlus. Spesialnya saya juga bertemu kembali dengan seorang teman yang bernama Piyu dari Band Padi. Saya tidak biasa memanggil nama musisi dengan nama bandnya sekaligus. Steve Lukather, Steven Tyler, Mick Jagger tidak pernah menyebut cara yang serupa. Fenomena ini terjadi di Indonesia. Namun ini adalah kebiasaan saya, sudah pasti berbeda dengan anda dan wajar saja.
Piyu diboyong MarkPlus ke lima provinsi di Indonesia setelah Dr. Jacky Mussry menyimpulkan sebuah case study yang menarik yaitu Piyu 3.0. Medan adalah kota terakhir putaran kegiatan sharing session berbobot ini. Latar belakang kontribusi studi kasus ini juga berkaitan dengan momentum rilis buku Piyu – Life, Passion, Dreams And His Legacy. Sebuah metamorfosa atas perjalanan karier bermusik yang dimulai dari mimpi dan cita-cita. Segala pengorbanan dan strategi yang dilalui telah menjadikan piyu menjadi brand penting di bisnis musik Indonesia. Apalagi investasi hubungan baik dengan beberapa nama di bisnis musik membantu salah satu usaha bisnis rekaman dan publishing yang digelutinya sampai hari ini. Index keberhasilan Piyu tidak lepas dari kerjasama tim yang selama ini ditekuni dan dikoreksi dengan penuh perhatian.
Di mata Jacky, piyu telah melalui 3 level fokus yaitu 1.0 (produk), 2.0 (fans) dan 3.0 (talent). Kini dia lebih banyak membuka diri untuk mencari, mengarahkan dan menentukan mana talenta yang menurut alat ukurnya dapat dirumuskan dalam perencanaan bisnis ataupun mendapatkan intangible recommendation dari nama besarnya. Piyu menceritakan semua kisah sedih dan bahagia yang dilewati sepanjang hidupnya dan menjadi sumber inspirasi yang menarik bagi para audiens yang memenuhi ruangan. Bahkan jawaban dari Piyu sangat realistis diterima beberapa penanya. Piyu pun menyempatkan diri menghibur semua orang dengan mendendangkan beberapa lagu dari Band Padi dengan permainan gitar yang dikuasainya selama ini. Rumusan ini sangat membuka mata atas apa yang terjadi pada perjuangan musisi dalam menggapai keberhasilan.
Jacky Mussry sempat mempersilakan saya untuk memberikan respon atas acara ini dan saya menilainya dengan baik bahwa ini adalah sebuah hal yang saya dambakan. Saya sampaikan bahwa Musisi Indonesia selama ini telah sukses melakukan proses “Learning By Doing” dan harus tetap didukung untuk tetap melakukan proses “Learning By Teaching” di dalam bentuk paguyuban apapun. Karena arena berkomunikasi ini sudah pasti akan menjadi sebuah sirkulasi pengetahuan yang inspiratif bagi siapapun lawan bicara yang menghadirinya. Dukungan seperti ini menurut saya harus lebih banyak lagi dilakukan oleh para penggiat marketing, bisnis musik bahkan akademisi di segala penjuru. Musisi memiliki kepiawaian dalam menyampaikan pesan positif kepada siapapun.
Begitu juga dengan seorang Entrepreneur Medan yang bernama Pak Surya Sampurna. Beliau yang memiliki kecakapan filosofi turut memberikan sebuah dukungan terhadap musik dalam bentuk singkatan yang menarik. Sebuah pribadi yang menarik dari seorang tua yang menyatakan bahwa setiap orang mau tidak mau harus berusaha mengenal dan mencintai musik. Dia memiliki kepercayaan bahwa music is personal development tools. Berikut adalah singkatan yang membuat semua orang mencatat dan saya yakin anda pun menyepakatinya:
M: Making Better Generation U: Universal Language S: Social Effort I: Intelligent Development C: Character BuildingSukses selalu untuk Piyu, Dr. Jacky Mussry, Redi, Eka, Marketeers dan MarkPlus. Saya yakin bentuk event seperti ini akan diadopsi di peradaban modern ini oleh kaum muda yang selalu berkeinginan untuk maju bersama.@2011aldosianturi/Photo:http://the-marketeers.com/archives/pemenang-kuis-%E2%80%9Caku-dan-piyu%E2%80%9D.html

