KOLABORASI ADALAH KUNCI

On 14/06/2011 by Aldo Sianturi

All Right Stop! Collaborate and Listen!

Bila akrab dengan musik hip hop lawas tahun 90an, maka anda akan mengenali kalimat pembuka yang diambil dari lirik lagu Ice Ice Baby yang diciptakan oleh Vanilla Ice & DJ Earthquake melalui debut album Hooked (1989). Lagu ini konon langsung disukai karena enerjik dan menyisipkan bassline yang berasal dari lagu Under Pressure milik Queen. Penggalan lirik tersebut mengilustrasikan seberapa penting kolaborasi dilakukan sebagai wujud bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan positif. Kata ini saya pikirkan sejak tanggal 10 Juni silam di Medan sesaat setelah berkoneksi dengan beberapa audiens ketika menjadi juri pada acara Youth StartUp Icon – The Marketeers Medan.

Salah seorang audiens mengatakan kepada saya bahwa kolaborasi masih menjadi sebuah aktifitas langka yang dilakukan oleh anak muda dalam jumlah besar dan mengakibatkan sedikitnya eksposur produk yang seharusnya bisa segera menjadi top of mind dalam teritori lokal. Saya menampik ‘anxiety’ tersebut dengan memberikan respon bijak atas observasi kecil yang saya simpul, bahwa hal tersebut bukan hanya terjadi di Sumatera Utara saja melainkan di semua jeluk dunia. Atas persamaan yang disampaikan, suasana pun kembali mencair namun tidak dengan saya yang semakin gusar dengan kalimat tadi.

Sampai hari ini perjalanan kerjasama memiliki awalan dan akhiran yang  saling berbeda dari para kolaborator. Ada yang setia mengeksekusi tugas bersamaan dan ada juga yang berpencar di tengah perjalanan karena faktor  ketidaksamaan visi dan misi. Kisah tersebut lantas dikompilasi dengan sebutan pengalaman bekerjasama dan bila dipikirkan lebih jauh, somehow kita akan melihat bahwa kerjasama itu adalah hal yang beresiko untuk dijalankan. Setiap orang memiliki opini dan testimoni yang berbeda bila ditanya seputar kerjasama yang dilakukan di berbagai masa. Kolaborasi runtuh karena disharmonisasi persepsi.

Aspek yang menjadikan sebuah aktivitas kerjasama menjadi sulit dijalani sudah pasti dilatari oleh beragam cara pandang dan alat ukur yang berlainan. Setiap kolaborator sebagai individu memiliki ekspektasi yang belum melebur tuntas dan menjadikan sebuah komitmen menjadi tidak tegak berdiri. Kolaborasi memang tidak semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan kebijakan dan seni untuk merangkai perbedaan dan persamaan dalam sebuah kompromi kolosal yang bisa disampaikan dan dipertanggung-jawabkan secara bersama. Kolaborasi juga bisa disebut sebagai bentuk aksi nyata dari komunitas.

Seharusnya dengan latihan bekerjasama yang sejak kecil sudah dilatih oleh setiap orang melalui keluarga, sekolah dan komunitas maka seharusnya format kolaborasi bisa menjadi lebih dinamis, namun sangat mengherankan bahwa kebersaamaan adalah sebuah rute panjang yang tidak bisa dilalui oleh setiap bentuk kerjasama kolektif. Padahal bilamana setiap orang mampu menguasai cara berkolaborasi yang benar dan baik, maka setengah persoalan produksi akan segera selesai. Yang artinya kolaborasi selalu mendatangkan keuntungan yang besar.

Kolaborasi harus terus dilakukan dan dikembangkan dengan niat dasar  yaitu untuk mencapai kemajuan, keadilan dan keuntungan bersama. Hendaknya semua berusaha menempatkan kolaborasi dengan apik because this is not a blame game. Kolaborasi merubah kompetisi menjadi kooperasi yang sekaligus melahirkan konsensus. Paradigma setiap orang harus diusahakan lebih lentur dan tidak melulu bersandar pada mitos klasik yang sangat tidak asik. Manusia harus berani merubah cara pandang dan mengoptimalkannya berulang kali. Tanpa kolaborasi aktif maka keadaan tidak akan pernah membaik melainkan sebaliknya. @2011aldosianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>