KE LUAR NEGERI DENGAN MUSIK

On 25/01/2012 by Aldo Sianturi

Membuka tahun 2012, Indonesia memiliki cerita sempurna seputar bisnis musik. Indro Hardjodikoro & The Fingers yang baru saja kembali menuntaskan tampil di 3 kota berbeda di Russia yaitu St. Petersburg, Protvino, Moscow dan akhir bulan ini, White Shoes & The Couples Company akan bertolak menuju Cannes, France untuk tampil di MIDEM 2012 atas kerjasama dengan Music Services Asia. Pencapaian ini mengingatkan kita semua dengan Band Krakatau yang juga pernah tampil di MIDEM 2000. Melalui musik, keduanya memiliki pengalaman baru dan sekaligus mengharumkan nama bangsa di kancah dunia.

Tampil bermusik di benua berbeda bukanlah kisah baru bagi musisi Indonesia. Sudah tak terhitung berapa banyak jumlah musisi dalam ranah populer dan non populer yang memiliki pengalaman seperti ini baik dalam konteks festival atau exclusive performance. Dara Puspita sebuah band perempuan yang berasal dari Surabaya pernah tampil di Malaysia, Iran, Turki, Eropa. Slank juga telah menyambangi Dubai, Jepang, London dan Amerika Serikat. Endah N’ Rhesa di tahun lalu bahkan mengunjungi Singapore dan Australia. Bottlesmoker ke Hong Kong, Superman Is Dead ke Amerika, Dik Doank ke Australia, Goodnight Electric ke Berlin, Mocca ke Korea, Simak Dialog ke Nepal, Gugun Blues Shelter ke London, I Wayan Balawan ke Amerika Serikat. Suarasama ke Jepang, Discus ke Kanada dan masih banyak lagi.

Membaca sederet nama dan lintas perjalanan musisi Indonesia somehow membuat bulu kuduk merinding karena takjub atas pencapaian yang telah diraih. Beberapa cerita mungkin pernah mampir di kuping tetapi lebih banyak yang tidak terdengar sama sekali. Mungkin anda memang tidak mendengar dan mencari semua rilisan lintas aliran musik Indonesia atau media kesayangan yang anda baca dan tonton tidak pernah mewartakan pemberitaan atas kiprah anak bangsa yang luar biasa. Beberapa media yang tidak digandeng menjadi media partner sering merasa tidak penting untuk menginformasikan atau secara instan dan sepihak melihat berita kepergian musisi ke luar negeri tidak memiliki high-commercial news value. Semua kembali lagi kepada manusia yang mengambil keputusan redaksional atau bisnis media tersebut.

Banyak yang mempertanyakan, mendebatkan dan juga mendukung perjalanan musisi tampil ke luar negeri. Dalam skala umum, setiap pembingung mencari titik pukau apa yang membuat nama musisi tersebut dipilih, diundang, disponsori atau bahkan pergi dengan modal sendiri ke luar negeri. Itulah musik dan misterinya, karena musik selalu melalui proses alami yaitu dikenali dan diapresiasi. Beragam faktor menjadi proses awal atas keberangkatan musisi tampil di luar negeri. Cerita yang paling otentik bahkan hanya diketahui oleh para pembuat keputusan di manajemen musik. Tidak sedikit juga kisah musisi yang seharusnya hadir di negara lain namun tertunda bahkan batal karena penyelenggara tidak memiliki dana atau perubahan besar di luar kemampuan.

Hari ini, internet yang dapat diakses di seluruh dunia turut membantu profil musisi kita dikenali melalui medium visual dan audio. Komunikasi antar negara lebih mudah dan cepat dilakukan dibanding 30 tahun silam. Pergi ke luar negeri selalu berhubungan dengan rezeki dan momentum ini diamini beragam pelaku musik. Meski melihat rezeki tidak melulu dalam konteks uang namun pengalaman yang tidak dapat dibeli menjadi kenangan dan motivasi dalam melangkah ke depan dengan karir yang telah dipilih dan sebagai konten cerita yang dapat dibagi dengan generasi penerus. Namun bagaimana dan seperti apa kriteria musik yang punya kesempatan tampil di luar negeri selalu menjadi pertanyaan langganan.

Menjawab hal tersebut harus dikembalikan kepada bentuk acara yang akan dihadiri oleh musisi. Bila memang diundang oleh Persatuan Mahasiswa, sudah pasti berhubungan dengan kedekatan komunitas tersebut dengan karya cipta musisi dan keartisan yang terbentuk. Lain lagi bila diundang oleh penduduk asli negara tersebut yang mengapresiasi keunikan karya cipta dalam ukuran penerimaan yang berbeda. Plus akan berbeda pula bila diundang oleh negara untuk kepentingan kampanye program atau misi kebudayaan dan mungkin juga bila diundang oleh plutokrat. Musik dan bisnis selalu memiliki agenda yang berbeda namun bisa dikondisikan menjadi cerita menarik bagi generasi penikmat.

Bila ditilik dari sudut realisme musik tanpa sinisme, musik yang diterima di luar negeri manapun adalah yang sarat dengan perbedaan. Sama seperti kita di Indonesia, bila ada dangdut dari Amerika, maka tidak akan mudah untuk dibawa keliling beberapa kota, karena kita memilikinya dan tahu betul keunikan dari aliran tersebut. Penduduk dari benua yang berbeda tidak merasa terpuaskan bila mengundang musisi dengan karya cipta yang tidak menggugah mind, body and soul mereka saat mendengarkannya. Contohnya adalah Jogja Hip Hop Foundation yang tampil di New York karena memiliki perbedaan yang bertolak belakang dengan bentuk baku yang diciptakan budayawan negeri Paman Sam. Hampir terlupa, populasi penduduk negara lain yang telah bermukim lama juga menjadi faktor pendukung hadirnya musisi ke luar negeri.

Pergi ke luar negeri tidak semudah kita pergi ke Pasar Seni Ancol. Tinggal pake taksi, sampai dan bayar tarif perjalanan. Beragam dokumen antar negara harus difinalisasi jauh sebelum tanggal keberangkatan, belum lagi kargo yang berisi peralatan musik yang mungkin tidak tersedia di negara setempat. Belum lagi agenda lain yang dipersiapkan oleh manajemen untuk persiapan ekspansi paska kepergian ke luar negeri. Begitulah dunia musik yang sering dianggap enak oleh kalangan awam. Semakin sering perjalanan ini terjadi, maka semakin baik persiapan musisi.Perjalanan ke luar negeri bagi musisi bisa cuma sekali namun bisa berulang kali, semua tergantung Yang Maha Kuasa.

Itulah pentingnya, setiap musisi dan entrourage-nya bersyukur dan memiliki kesadaran kalau keajaiban tersebut hadir karena dukungan teman-teman selama ini. Teman adalah sahabat musikal sejati. Dalam bermusik juga tidak perlu menetapkan extreme wish-list yang malah menyepelekan fokus utama music production yang menjadi pilar utama dari semua perjalanan setelahnya. Selamat bagi yang telah dan tunggu giliran anda bila yang belum sampai ke kisah ini. Panta Rei! @2012AldoSianturi

Photos:

1. http://www.hiphopdiningrat.com/wp-content/uploads/2011/05/Photo-NY-2-resize.jpg

2. http://a2.ec-images.myspacecdn.com/images01/108/a25e0a48e4b417b4f3d905af760a1ae6/l.jpg

3. WSATCC in Hong Kong (Source: Facebook WSATCC)

4. http://4.bp.blogspot.com/-70hyrNnfCFc/TwZXpu3bvPI/AAAAAAAAAM4/TXuw5dkXvUk/s1600/gugun+blues+shelter.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>