JAKARTA KOTA BIASA
Terakhir saya pulang kampung ke Jakarta adalah pada bulan Maret 2011 dan minggu lalu saya kembali ke Ibukota untuk beberapa saat dari Medan, Sumatera Utara. Meskipun suku saya Batak, tapi tanah kelahiran saya adalah Cikini, Jakarta Pusat. Saya selalu merasa nyaman ketika telah keluar dari kompleks bandara Soekarno-Hatta, Banten. Pasalnya, saya sumpek dengan perilaku penumpang low-cost carrier yang semrawut, calo taksi gelap yang tidak pernah tuntas disingkirkan oleh manajemen dan beberapa awak kabin pesawat Lion Air yang tidak sepenuhnya melayani penumpang. Namun itulah harga yang harus saya bayar untuk sebuah kebahagiaan.
Mungkin bukan saya saja yang merasakan situasi ini, namun repetisi ini begitu melelahkan. Saya selalu merasa nyaman bilamana kendaraan telah melintas di tol Grogol di dekat Kampus Trisakti, dimana banyak obyek menarik yang bisa dinikmati baik siang dan malam hari. Berbagai gedung senantiasa memberikan nuansa urban melalui lampu-lampu yang sengaja diaktifkan pada jam aktif gedung dan semakin mengarah ke jembatan semanggi, pemandangan menarik pun satu per satu menampilkan keindahan yang tidak saya temui di daerah saya tinggal belakangan ini.
Di Medan sebagai kota ke 4 terbesar di Indonesia lebih tepat disebut dengan Kampung Besar yang dipenuhi oleh ruko-ruko dan beberapa gedung peninggalan jaman hindia belanda yang tidak dirawat oleh Pemerintah Daerah. Di sini saya bukan membandingkan antara Ibu Kota Negara dan Ibu Kota Provinsi, tapi memang saya menyalahkan para koruptor yang selama ini memangkas kucuran uang pemerintah yang seharusnya sampai ke masyarakat setempat. Infrastruktur yang tertinggal menjadi perbedaan mutlak antara dua provinsi ini. Saya tercengang dan saya yakin kalau kondisi ini juga terjadi pada orang lain yang masuk ke tubuh kota Jakarta.
Sudah dua hari ini, saya berangkat ke tengah kota jam 5:30 pagi dari kawasan Jakarta Timur. Pasalnya, bila saya berangkat jam 7 maka sudah pasti saya akan menua di jalan. Saya akan terjebak macet panjang sekitar 2,5 jam meskipun melalui tol dalam kota. Ini adalah keadaan yang sampai sekarang tidak pernah ada solusinya. Jakarta setiap hari dihujat karena faktor macet yang melumpuhkan semangat pergi-pulang-pergi penduduk kota ini maupun komuter dari Bekasi, Tangerang, Bogor dan Depok. Ini adalah ulah pembiaran para penentu kebijakan yang tidak melihat efek kelipatan jumlah kendaraan baru di Jakarta atas kran yang dibuka lebar terhadap para produsen kendaraan bermotor selama ini.
Jakarta memang semakin indah dengan berbagai merek kendaraan bermotor yang berseliweran, tetapi di lain sisi kondisi di jalan membuat setiap orang menjadi semakin egois untuk sampai ke tujuan. Di berbagai sudut kota saya melihat materi promosi HUT ke 484 kota Jakarta yang akan diperingati pada tanggal 22 Juni 2011 nanti. Namun saya selalu sedih melihat uang yang dihamburkan hanya untuk sebuah peringatan yang dalam waktu seminggu sudah tidak diingat kembali. Yang paling penting untuk Jakarta adalah mengalokasikan tempat-tempat terbuka bagi keluarga dan anak muda untuk bersosialisasi. Lautan Mall yang hadir memang menyejukkan dengan kekuatan air-conditioner namun hanya menggiring dan membentuk generasi menjadi konsumen.
Kota besar memang selalu punya masalah besar yang dikondisikan untuk tidak ikut menjadi besar. Dalam diam, saya akhirnya berpikir bahwa Jakarta Kota Biasa dan yang membuat menjadi luar biasa adalah kita sebagai orang yang tinggal dan bekerja keras setiap harinya. @2011aldosianturi/Photo: Arief (http://www.jakarta.go.id/jakv1/foto/fotopick/1164/6482)

