HARUS BISA BERSATU
“Jangan terlalu banyak kepala dulu, kalau sudah dapat formula, baru kita bentuk tim.” Sudah tidak terhitung lagi berapa sering saya menemui kalimat ini saat memulai perumusan ide di berbagai tempat. Dalam hati kecil, saya selalu menaruh kontra positif atas argumentasi yang tidak jantan ini. Kalimat ini cenderung kurang terbuka bagi perspektif pribadi yang menyukai kolektifisme. Prinsip saya kalau bisa adalah the more the merrier, karena sudah pasti akan lebih kuat bila kebersamaan menjadi landasan.
Tanpa disadari, kebiasaan ini bukan hanya berperan di awal cerita namun akhirnya sekaligus menjadi penutup cerita. Rejeki yang mengalir masuk atas usaha bersama dikuasai oleh sedikit kepala dalam perihal besaran dan cara pendistribusian. Dalam beberapa saat keadaan menjadi tenang karena semua kebagian, namun tanpa disangka keadaan asli yang sengaja ditutupi bercelah tanpa sengaja dan menggerus kenyamanan kerja sama yang sedang berkembang.
Semuanya pun terhenti, bukan tim saja yang hancur namun setiap orang pun harus kembali melakukan perubahan manajemen keuangan. Bila sudah sampai di situasi ini, barulah setiap orang yang waras merasa atau mengakui kesalahan adalah refleksi dari mismanajemen yang dikatrol selama ini. Anggaplah ini pengalaman yang berharga tapi berapa lama waktu yang sudah hilang? Selain pertemanan yang kocar-kacir, keadaan ini membuat suasana menjadi jauh berbeda yang bisa menghasilkan atmosfir enak atau tidak.
Salah dan benar biar bagaimanapun masih menjadi parameter emosional dalam konteks sosial. Bilamana ada kesalahan fatal yang dilakukan seorang teman maka bukan restu maaf yang akan diterima melainkan pengucilan atau small notes untuk tidak mengeksposnya kembali sebagai pribadi yang siap menampilkan karakter barunya. Merasa tidak diperhatikan dan akhirnya pembuat kesalahan tidak betah dan meninggalkan sekumpulan kawan baiknya. Komunitas tempat berkumpul yang didiami dalam waktu panjang sudah pasti memiliki banyak point of interest yang bisa masuk dengan personality kita. Hal tersebut adalah berkah yang harus diterima wujudnya tidak berbeda dengan keluarga kedua di dunia ini.
Tongkrongan yang dihuni oleh setiap pribadi berbeda adalah sangat baik untuk meluluskan mimpi bersama. Yang diperlukan adalah visi dan misi yang bersama dieksekusi sesuai dari potensi setiap orang. Tongkrongan sekarang harus selalu dibuat lebih produktif agar bisa membuahkan hasil yang bisa dinikmati bukan hanya oleh diri sendiri namun keluarga di rumah. Setiap orang harus merasa yakin kalau lawan bicara dapat memberikan peluang dengan skill atau jejaring sosial yang dimiliki. Kebersamaan bisa memiliki output beragam seperti menjadi Event Organizer, Pemasok Katering dan banyak hal benefisial lain.
Memang gelak tawa di tongkrongan memiliki kelas yang berbeda dengan di rumah, karena kelakar yang ditampilkan terkadang lebih segar, namun setelah tertawa masih ada aspek lain yang harus dipenuhi yaitu makan dan minum. Otomatis setiap orang tidak mungkin melulu menjadi benalu yang tau sama tau. Wacana untuk meningkatkan taraf hidup harus dihadirkan segera tanpa harus menghadirkan pembanding yang malah menakutkan langkah awal. Dengan perbedaan yang terasosiasi maka tidak ada yang tidak mungkin bagi sebuah komunitas untuk bersatu dan berpemasukan yang baik.
Tantangan bagi setiap anak muda adalah bukan hanya untuk berkomunitas tapi bisa bersatu padu menjalankan proses serius kepada target aksi yang diputuskan bersama. Wirausaha menjadi kanvas besar yang harus dipenuhi dengan berbagai cerita sukses agar langkah kecil tersebut bisa menjadi besar, tebal dan solid. Anak muda adalah pemilik waktu yang luas dan dibutuhkan kepandaian dalam memanfaatkan waktu. Bila telat maka akan terlambat. @2011aldosianturi

