BEYOND RETRO
Life is always a matter of choice.
Semua orang melewati masa muda dengan beragam kisah. Bagi sebagian orang, masih ada yang hidup bersama kisah tersebut. Namun ada juga yang meninggalkan masa lalu tanpa excess baggage sekalipun. Jumat kemarin, saya menyambangi sebuah Bar bernama Beyond di bilangan Kebayoran, Jakarta Selatan. Kalangan baby boomers, menamakan tempat ini sebagai Classic Disco Club. They said, it’s a great place for drinking and mingling with a perfect soundtrack. Tempat ini terpilih menjadi kanal favorit yang membawa memori masa muda kembali.
Tepat pukul 11 malam, Beyond sudah dipenuhi oleh mature clubbers yang larut dengan dansa kecil dan kepulan asap rokok. Dunia hiburan memang memiliki pesona tanpa batas. Ia mampu menjadi magnet yang menarik tamu masa lampau hadir kembali dalam arena yang berbeda. Mulai dari kondisi parkir kendaraan yang over capacity, jelas menandakan para tamu akan berada di bar dalam durasi yang lama. Tidak jauh berbeda dengan apa yang biasa kita saksikan di Dragonfly, hanya saja berbeda age demography dan entertainment aspect. Mereka yang hadir di bar ini memiliki masa lalu sebagai active & passive clubber di Ebony, Stardust, Le Mirage, Pitstop, Oriental, Topaz, Qemi Club dan Music Room.
Di meja yang telah dipesan teman, saya lantas sibuk sendiri. Mata saya tidak berhenti memandangi atmosfir atas konten visual mulai dari guest population, security gesture, disc jockey, interior, dynamic lighting effect, minuman yang dipesan setiap orang. Dan akhirnya kuping saya mulai berorientasi menilai playlist selection, tonal quality, volume levels dan the sequential music flow yang dipresentasikan oleh home disc jockey yang bernama DJ Kikiez. Meskipun saya tidak mengalami langsung jaman klasik disko di Indonesia, namun saya adalah penggemar dan kolektor piringan hitam The Real Classic Disco.
Dibawah tuntunan DJ Erfan Kusuma, saya semakin mengerti psikologis dan anatomi klasik disko. To be honest, kuping saya dan teman saya terganggu saat peramu musik memainkan lagu Show Me Love dari Robyn S (49 Tahun) (http://www.myspace.com/therealrobin_s) yang dikenal sebagai House Anthem rilisan tahun 199o (Big Beat Label). Bagi saya yang penikmat, kehadiran lagu yang tidak satu zaman memang menjadi sebuah tikungan yang harus dihindari. Mendadak saya tidak bisa menikmati suasana yang sebelumnya telah dibangun oleh lagu dari Earth, Wind & Fire – September, Marilyn McCoo & Billy Davis Junior – Shine On Silver Moon, Gloria Gaynor – I Will Survive, The Real Thing – You To Me Are Everything,Johny Bristol – Hang On In There Baby dan track lainnya.
Musik adalah sejarah. Meskipun kita bukan bagian dari sejarah, tetapi sejarah dapat digali dan dihidupkan kembali tanpa improvisasi yang bertolak belakang dengan esensi sejarah. Dengan figur tamu yang notabene mapan dalam perihal finansial, Beyond memang pasti menutup akhir minggu dengan angka penjualan dari beragam hal dengan sempurna. Namun bagi keseimbangan formula harus diperhatikan oleh pemilik dan pemegang kunci operasional bar untuk eksploitasi brand yang lebih baik tahun demi tahun. Second opinion ini saya sampaikan sebagai apresiasi pribadi hadir dan mencicipi keriuhan malam menuju The Future Retro of Beyond. @2011aldosianturi/Photo: rentalcomp.com, http://beyondbar-jakarta.com



