BELAJAR DARI GITARIS
Gitar adalah alat musik yang paling mudah ditemui di Indonesia. Bahkan ribuan toko yang menjual alat olah raga menjadi sedikit identik sebagai penjaja instrumen musik. Distribusi yang megah ini menjadi salah satu faktor penyuka musik memilih membeli gitar disamping varian harga yang notabene terjangkau. Gitar sudah menjadi kebutuhan dan berbagai cerita sukses dari para musisi menginspirasi setiap orang untuk mengenal dan berlatih memainkan gitar dengan baik. Untuk bermain gitar yang baik dibutuhkan kedisiplinan memainkan sekaligus kesediaan hati untuk meraih bunyi yang sempurna.
Jaman sekarang memang serba mudah. Bila kita memiliki kemauan untuk piawai memainkan gitar maka kita dapat membuka situs youtube.com di internet dan mencari beragam tutorial dasar sampai yang tersulit untuk pemula. Ketersediaan informasi tersebut memacu setiap orang untuk melatih ekstra reguler. Namun untuk menjadi musisi yang membumi tidak hanya melulu mengedepankan keterampilan memetik dawai dan menciptakan melodi dan bunyi eksentrik. Memiliki attitude (sikap) yang rendah hati adalah yang terpenting menjadi pegangan bagi musisi.
Dari tadi pagi sampai sekarang saya masih berada di Garuda Plaza Hotel Medan dalam rangka menemui sahabat saya Moedya dari Majalah GitarPlus. Dia bekerja pada sebuah niche media yang memfokuskan warta berita ekslusif mengenai Gitar. Dengan mengemas konten dengan kreatif, maka media ini telah merebut hati para musisi yang memilih Gitar sebagai instrumen spesialnya. Majalah GitarPlus mengadakan acara “Guitar For Fun” dengan mengajak Christopher Bollemeyer, Andy Owen, Pupun, Firman Al Hakim, Agung, Ezra Simanjuntak dan Azis Siagian tampil dalam kemasan yang menghibur.
Berada bersama mereka sejak tadi pagi dan mengikuti para gitaris ini melakukan sound-check dan makan siang bersama adalah sebuah momentum penting untuk melihat lebih dekat lagi tekstur komunikasi musisi. Masing-masing musisi ini jelas berbeda dengan DNA-nya masing-masing dan saling mendukung. Mereka tidak saling menyerobot untuk bergantian melakukan cek suara. Bahkan setiap gitaris saling memberikan input bilamana menemukan kondisi kurang baik pada sistem suara. Sikap seperti ini dibutuhkan sekali di dalam dunia musik. Karena musik adalah kegembiraan bukan kesombongan. Bilamana anda masih sombong terhadap musisi yang lain maka ubahlah sikap negatif dan segera aplikasikan kebaikan tersebut.
Hal lain yang membuat saya kagum adalah perangkat pendukung para Gitaris seperti Amplifier adalah asli buatan Indonesia seperti Russel, Cora, Shredder dan Bugera. Merek pabrikan Indonesia tersebut sangat kompetitif ketika dimainkan para musisi dan bukan menjadi halangan untuk tidak dipilih. Inilah perkembangan yang terjadi dalam dunia musik yang selama ini tidak terekspos dengan baik di media. Karena dianggap bagian dari advertorial dan perkembangan ini jelas menjadi stream bagi para musisi dalam format endorsement deal atau merilis brand sendiri. Sungguh inspiratif!
Acara seperti ini baik sekali dan penting untuk didukung. Namun saya melihat bahwa kaum muda masih menempatkan kegiatan musik seperti ini belum sebagai kebutuhan. Penyuka musik lebih menyukai penampilan panggung dengan konteks hiburan. Bila kegiatan musik yang bermuatan pendidikan sudah pasti tidak menjadi opsi. Itulah salah satu kelemahan yang harus ditutupi. Kegiatan seperti ini penting untuk disambangi bukan dengan satu tujuan namun untuk berkoneksi. Semoga tulisan ini mempengaruhi cara berpikir setiap orang yang enggan mendatangi acara yang menyuguhkan klinik musik. Mari belajar dari Gitaris…@2011aldosianturi

