ANAK ZAMAN SEKARANG

On 09/03/2011 by Aldo Sianturi

Kita semua pernah menjadi anak kecil dan sebuah perjalanan panjang yang penuh dinamika. Sebagian orang mengangap masa kecil penting dikenang dan sebagian tidak. Menjadi tidak penting apabila pribadi tersebut mengalami situasi traumatis yang mereka rasakan dan lalui sendiri. Aspek traumatis ini beragam aspek dari lingkungan yang tidak mendukung perkembangan jiwa, keretakan hubungan suami istri dari orang tua, masalah finansial yang bermuara dalam hal korupsi yang dilakukan oleh orang tua dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh figur-figur yang mengalami gangguan sakit jiwa.

Anak adalah sebuah kekayaan yang membanggakan bagi setiap orang tua yang normal. Saat anak beranjak besar, orang tua pun bekerja keras untuk mencari penghasilan dan meningkatkan taraf hidup agar bisa memenuhi kebutuhan dasar yaitu sandang, pangan dan papan. Di rumah pun orang tua mencerdaskan anak dengan menunjukkan kearifan sikap dalam berbagai hal dengan dasar beragama yang baik. Namun di setiap pintu rumah, keadaan yang saya simpulkan tidak pernah sama. Semua memiliki garis privat dan ekslusif dalam menjalankan nilai-nilai yang menjadi pegangan seorang anak.

Seorang anak mengalami perkembangan fisik dan pikiran yang berjalan alami. Normalnya dia akan semakin tinggi ukuran badannya dan beragam perubahan fisik lain. Kemudian dalam perihal komunikasi dan visiual, anak akan memiliki variasi perbendaharaan kata dan gambar baik yang sopan maupun tidak sopan. Dengan kontrol yang baik maka konten pemikiran itu tidak akan sembarangan keluar dalam bentuk perkataan yang bisa ditanggapi minor oleh orang lain. Anak adalah sebuah individu yang akan belajar dan mengartikulasikan mana yang benar dan tidak benar dalam arena sosialisasi.

Seiring dengan perkembangan jaman sekarang, tempat bermain anak bergeser dari ruang luar menjadi ruang tertutup di kota besar. Anak yang bermukim di kota besar akan lebih sering dan nyaman untuk bertemu dan bermain bersama teman-teman di sebuah Mall yang menyediakan banyak tempat untuk berkumpul dalam konteks makan dan minum plus varian produk hiburan. Hal ini jelas memacu anak untuk lebih konsumtif dan memiliki keinginan untuk mencoba dan menikmati beragam produk dan layanan yang dijaja dengan berbagai sales gimmick yang notabene diciptakan untuk meningkatkan pendapatan penjualan. 

Apalagi bila akhir pekan telah tiba, maka gelanggang perbelanjaan ini akan dipenuhi oleh riuh tawa anak yang sekarang bukan hanya didominasi oleh Bahasa Indonesia. Namun sesuai dengan tempat tinggal dan provinsi yang berbeda, maka kita akan mendengar anak-anak berbahasa Inggris dan Hokkien dan bahasa daerah masing-masing. Para pramuniaga outlet saja semakin sering menunjukkan wajah kagum dan heran bilamana ada rombongan anak kecil yang Tour de Mall dengan melafalkan bahasa Inggris yang bukan main lancar. Seperti ada sebuah rahasia perbincangan yang tidak dapat dimengerti oleh pribadi yang tidak menguasai bahasa yang saling berbeda.

Inilah kehidupan anak jaman sekarang yang sangat jauh berbeda dengan suasana di tahun 80an. Anak sekarang pun akrab sekali dengan nama dan logo brand komersil yang terpajang rapih di sekeliling bangunan fisik mall. Seakan-akan, logo tersebut menjadi sesuatu yang magnetik menyambut kehadiran konsumen muda. Sesampainya di dalam Mall, maka anak pun akan berubah bak seorang dewasa yang memiliki tiga pemikiran sebagai pembeli yaitu Planned Customer, Unplanned Constumer dan Impulsive Costumer. Apalagi dengan teknik rayuan dari para pramuniaga yang loyal terhadap akumulasi saldo maka dalam sekejap anak akan berbaris di depan meja kasir.

Beruntung bagi anak yang mengalami sistem konvensional berbelanja seperti ini. Karena dia akan mengalami sendiri dan memutuskan mulai dari produk, mutu produk, harga produk, cara bertransaksi dan cara menjaga produk yang dibelinya di keramaian yang pasti selalu ada orang berniat jahat diantaranya.Dari sini, anak mendapatkan ilmu berbelanja dan berdagang dengan berinteraksi dengan para pekerja yang paling tidak punya perbedaan usia sekitar 15 sampai 20 tahun dengan mereka. Namun bagi anak yang tidak bersentuhan dengan convenient stores apalagi mall, tetaplah dia mendapatkan ilmu berkomunikasi dan berdagang dari pasar tradisional atau warung-warung yang ada di sekitar tempat tinggal.

Dalam kehidupan anak banyak sekali cara pandang yang berkembang setiap hari dan semakin susah untuk dibendung dengan sistem proteksi yang terkesan kejam. Kehadiran internet bagi ruang-ruang personal menjadi sebuah sandungan pemikiran orang tua sekarang. Dua hal yang mengancam pemikiran adalah Pornography dan Vandalisme yang dengan mudah dapat diakses melalui medium apapun. Begitu banyak orang tua yang merasa komunikasi dengan anaknya sudah selesai dengan presentasi cara memahami dan menggunakan Internet yang sebulan lalu telah diberikan kepada anak-anak. Namun bulan lalu tidak cukup untuk menjadi bekal pemikiran bulan sekarang.

Komunikasi adalah tetap menjadi senjata paling penting dari sekian banyak tips and trick yang dianggap bisa menjadi jawaban alternatif bagi kegalauan orang tua. Komunikasi yang rutin setiap hari yang terdengar klise adalah kunci agar orang tua bisa memberikan pemahaman lebih dan kemerdekaan lebih bagi kontrol pemikiran saat anak berada dimanapun. Anak memang memiliki perbedaan usia namun tidak bisa selalu dipandang sebagai anak kecil. Orang tua dan anak hanya berbeda tahun kelahiran saja. Selebihnya sama-sama hidup di dunia dan menguasai situasi yang saling berbeda tingkatan kesalahan. Modal komunikasi adalah sebuah investasi yang nantinya akan diturunkan lagi oleh anak kepada anaknya dan seterusnya.

Orang tua baru jaman sekarang berusia 20 sampai 40 tahunan dan dengan kemampuan finansial yang dimiliki, maka memiliki keberanian dan kesempatan untuk menikmati produk-produk komunikasi berteknologi mutakhir seperti komputer tablet dan handphone qwerty yang memiliki kemudahan dalam mengakses internet dengan portable dan classy. Sering sekali terlihat dimanapun bahwa anak kecil sibuk dengan komputer tablet dengan beragam aplikasi permainan yang diperkenalkan orang tuanya. Malah beberapa orang tua juga sengaja menghadirkan komputer tablet agar setiap anak dalam keluarga tidak saling berteriak dan membuat kegaduhan saat berkeliling kota.

Tanpa disadari, komunikasi alami telah putus di sini. Orang tua merestui dan merasa nyaman kehilangan golden moment untuk melakukan komunikasi ringan dan berat terhadap perkembangan jiwa anak. Belum lagi ditambah dengan acara makan malam dimana semua anggota keluarga sibuk dengan fitur BlackBerry Messenger (BBM). Bila sudah begini maka, yang jauh terasa dekat dan yang dekat terasa jauh. Mungkin hal ini dianggap sepele bahkan dianggap modern, tapi inilah akar permasalahan komunikasi keluarga yang paling tidak harus dicari jalan keluarnya. Peranan orang tua sebagai pemimpin keluarga harus dikembalikan secara natural. 

Network yang dimiliki anak juga menuntut mereka untuk selalu hadir menjadi bagian komunikasi sosial yang diikutinya baik melalui sosial media ataupun layanan ekslusif fitur alat komunikasi sekarang. Namun manajemen komunikasi yang baik akan menempatkan anak kembali kepada perjalanannya untuk mempelajari dan menguasai seluk beluk perjalanan hidup yang tujuannya adalah untuk sebuah keberhasilan yang akan diteruskan kepada generasi penerus keluarga maupun dirinya. Hari ini kita semua menjadi seseorang yang dihadapkan dengan harga mati untuk mengetahui segalanya diantaranya yaitu Youth Marketing.

Dengan menguasai hal ini, maka kita akan berproses dan menjelaskan proses apa yang terjadi kepada anak yang menjadi bagian dari kehidupan kita. Ketika saya menyebut anak, bukan hanya anak kita saja melainkan semua anak di dunia ini. Reaksi Marketing Mindset yang kita miliki akan senantiasa menjadi sebuah penyeimbang bagaimana kita memberikan menu dan penjelasan akan menu tersebut yang bisa juga ditularkan anak kepada anak lain melalui komunikasi rutin yang tidak selamanya bisa kita pantau dan ikuti detik demi detiknya. @2011aldosianturi/Photo: Internet

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>