Kenapa dan sampai kapan ditunda? Passion adalah sesuatu hal yang sangat diminati oleh kita dan sama sekali tidak salah menundanya sampai mental dan modal kita benar-benar siap. Pasti respon singkat anda adalah kurang setuju tapi inilah sebuah artikel yang membuat anda menghargai sebuah proses pencapaian.

Manusia memiliki beragam Passion dalam dirinya. Ada yang Passion-nya di Music, Golf, Otomotif, Photography, Skateboard, Fishing, Melukis, Memasak, Membuat Tattoo dan sebagainya. Semua ini adalah berkah yang kita terima dan dengan rasa dan kegigihan yang kita miliki, maka tanpa disadari Passion ini bisa diseriusi dan diolah menjadi pemasukan yang meningkatkan taraf hidup kita. 

Sering sekali saya mendengar dan melihat begitu banyak orang yang tidak sabar dalam mengekspos Passion-nya dalam konteks bisnis. Dengan ilham yang baru saja didapat lima menit lalu atau melihat sisi lain dari sebuah bisnis yang laris di negara lain maka tanpa kalkulasi resiko, riset dan pertimbangan makro hal tersebut digelontorkan dengan modal usaha yang tidak sedikit. Akhirnya tanpa disadari terjadi kanibalisme modal ataupun sikap saat menjalankannya dan sudah pasti headline hari ini adalah kekandasan sebuah bisnis.

Memang kebangkrutan bisa menjadi pemicu agar tidak gagal lagi ke depan, namun bukankah kita telah memikirkan definisi dari teori efisiensi dan efektifitas. Apakah kita tidak merasa salah dalam menjalankan rencana bisnis kita? Yes, salahkan diri kita lebih dahulu sebelum menyalahkan elemen lain dalam kegiatan niaga apapun. Autopsilah kesalahan apa saja yang mendasari kisah sedih tanpa membedakan hubungan atau bentuk investasi yang dilebur. Lalu sejenak anda berpikir, coba ya modal ini saya alokasikan di awal di tempat lain jangan di sini. Hindari wacana seperti ini saat anda gelisah sebab tidak ada gunanya.

Passion anda tetap di dalam diri anda dan bertambah seiring dengan pikiran yang bertualang ke ranah-ranah peluang baru. Sambil berpikir ada realita ekonomi yang harus kita mengerti membawa dampak finansial yang berbeda-beda bagi setiap orang. Kita tidak bisa berpikir bahwa semua orang harus menjadi Indiepreneur Praktis. Logika ini tidak bisa dipaksakan, karena anda yang memiliki kapasitas sebagai karyawan adalah berada pada logika Spesialis. Dimana anda sudah dipercaya mengemudikan kendaraan Marketing, Sales, Research, Finance, IT, Legal dan lain2. Anda tidak bisa memakai logika “wirausahawan” yang menyelesaikan problema dari hulu ke hilir secara personal.

Di dalam dunia perkantoran motivasi anda adalah jenjang karier dan bilamana anda melakukan hal tersebut dengan baik maka penghasilan profesional anda pun bertambah dan berguna untuk berbagai macam keperluan dalam hidup. Bila anda telah memiliki tabungan yang cukup maka berbicaralah dengan diri anda dan sentuhlah Passion anda yang tertunda. Jangan pernah membunuh Passion anda meskipun masih dalam wujud benih. Berpikirlah bagaimana merealisasikan hal tersebut dengan keberanian dan manajemen waktu plus resiko yang lentur. Begitu juga dengan para Indiepreneur yang memiliki banyak waktu. Jangan berpikir bahwa semua hal bisa dijalankan. Berpikirlah ada strategi yang berbeda dari setiap Passion yang ada. Ada waktunya subsidi silang dapat dijalankan dengan tujuan profit yang dinamis.

Semoga hal ini membantu kesiapan anda dalam menahan enerji dan emosi demi kelangsungan bisnis yang prima. @2010aldosianturi Photo: Internet

Di bulan Agustus 2010, salah satu cabang retail musik di Jakarta yaitu Aquarius Pondok Indah menutup kegiatan bisnisnya secara permanen. Bagi sebagian orang yang berada di pipa bisnis musik, hal ini tidak mengagetkan setelah sebelumnya Top Retail Brand ini telah mengamputasi 2 cabang lainnya yaitu Aquarius Dago Bandung dan Aquarius Surabaya. Tanpa mengantongi gelar MBA, anda pun dengan mudah dapat menganalisa alasan retail ini mengakhirinya. Arahkan pemikiran anda dari 2 sisi yaitu eksternal dan internal.

Benar sekali, bahwa tidak ada akumulasi margin dan profit yang dapat menutupi sederet pembiayaan dan penggajian karyawan yang menopang akselerasi bisnis musik di kota besar sekalipun di Indonesia. Satu hal lagi yang perlu dipahami adalah letak bangunan retail ini berada adalah tidak efisien dengan kebutuhan kaum urban terkini yang semakin instan dan nyaman berbelanja di satu tempat yaitu di Mal. Mereka tidak mau ambil resiko terkena macet 30 menit hanya untuk mendapatkan 1 CD di Aquarius PI bilamana mereka sedang hang-out di PIM I atau Gandaria atau Citos.

Di berbagai kran sosial media, informasi ini sempat merebak luas seharian.  Namun saya yakin bukan karena ditutupnya retail ini, tidak lain karena judul “Obral Besar” yang dilakukan kepada judul2 tertentu. Saya pun salah satu orang yang kena imbas ‘retail shock program’ ini dengan menyambangi retail ini, namun karena telat 1 jam  maka saya tidak berkesempatan mencicipi potongan harga. Bagi pebisnis musik seperti saya melihat hal ini adalah dari sisi yang berbeda dan humanis yaitu seperti apa kehidupan para pekerja retail yang selama ini membatasi ruang gerak pribadinya dengan fokus ke bisnis musik ini. Seperti apa kondisi rumah tangga secara ekonomi bilamana lowongan pekerjaan tidak segera datang dan juga bagaimana dengan para musisi yang sebelumnya bisa nyaman karena distribution points cukup banyak dan kini semakin sedikit.

15 tahun silam, nama Aquarius begitu identik dengan penggemar musik berbagai aliran. Retail ini memiliki medan magnet untuk menarik anak muda datang dan membelanjakan uangnya untuk kaset,  music tees, compat disc, kaset kosong, cd case, headphone, rewinder, tiket konser sampai produk visual mulai dari VCD, DVD dan Blue-Ray. Perlu diketahui retail musik bekerjasama dengan label dan revenue streams yang didapat dari label adalah bukan hanya dari diskon PPD (Price Point Dealer) saja namun juga ada biaya sewa Promotional Tools seperti Baliho, Visual Box, Hanging Banner dan Customized Promotion Ideas lainnya.

Seharusnya kalau dilihat dari supply rooster dari label maka retail merasa nyaman dengan regular order promotion spots.  Namun kehangatan label dan retail pun sudah tidak nyaman sejak 13 tahun terakhir dimana kepentingan masing-masing yang dilatari metode korporasi berperan.  Label dan Retail sama-sama melihat hubungan sebagai klien bukan partner lagi. Retail tidak yakin lagi dengan rilisan yang bukan murni bermusik lagi tapi banyak yang hadir sebagai portfolio personal branding seseorang.

Penutupan ini adalah langkah paling realistis yang sudah pasti dikalkulasi resikonya oleh Entrepreneur sebesar Pak Johanes Surjoko. Karena sadar bahwa brand-nya memiliki pesona dan masih menyimpan katalog fisik, maka ‘end profit’ pun tidak mau dibiarkan membeku begitu saja. Maka digelarlah Ramadan Mega Diskon 30% bagi judul-judul album yang sudah diseleksi dan diyakini sudah tidak memiliki harapan bila dijual dengan harga standar atau premium. Sebelumnya memang outlet ini pun sudah selalu mendedikasikan section sale yang tidak jauh berbeda dan memang mudah ditebak pasti jauh dari harapan.

Namun 30% diskon meskipun di Jakarta Selatan masih berat sekali dari ekspektasi pembeli dan hampir tidak beda dengan harga produk klasik rock di pelataran toko CD bekas di Jalan Surabaya. Apalagi di jaman ekonomi pailit ini, dari 100% target kemungkinan yang aktif menyambangi Price Campaign ini untuk membeli adalah 30% dan sebagian datang dari korporasi media seperti radio untuk melengkapi library-nya. Meskipun anak muda datang dengan Honda Jazz, Toyota Yaris dan BMW sekalipun, tetap saja mereka sangat penuh pertimbangan berbelanja.

Faktor bad economy menjadikan perspektif pengunjung terhadap album selalu dalam Resiko Besar. Di saat CD berkemas plastik tidak dapat dicoba, didengar dan dipilih dengan leluasa maka retail sebenarnya sudah mengalami penurunan sales. Konsumen mengumbar pepatah tak mau membeli kucing dalam karung.  Mereka takut membeli Album, takut kecewa saat semua tracklisting diputar maka tidak sesuai dengan seleranya. Periode ini lantas dipakai oleh para pebisnis musik untuk mencari profit dari album kompilasi yang lebih lentur dan hanya sesaat.

Kreatifitas gila apapun yang dilakukan pebisnis musik tidak akan memberikan solusi permanen tanpa campur tangan Pemerintah Pusat yang membuat aturan baru bisnis musik tanpa embel-embel lagi. Say,  pebisnis musik lain diberi pinjaman lunak oleh Bank Mandiri sebesar IDR 10 Trilyun untuk menyelamatkan retailnya namun ROI (Return of Investment) yang akan dipikul amatlah berat dipenuhi di jaman sekarang dan lebih baik diolah di bidang usaha yang lain seperti agrobisnis, fast moving product atau kasino sekaligus. Bisnis Musik bukan bisnis emas lagi.

Mumpung Aquarius Mahakam masih tegak berdiri, datanglah, belanjalah dan jadilah bagian dari ‘momentum effect’ bisnis musik Indonesia. @2010aldosianturi

Tidak terasa kita sudah melewati paruh awal tahun 2010 dan hasil komunikasi atas interaksi saya dengan banyak  musisi belum begitu jauh berbeda dengan apa yang telah dilewati sepanjang tahun 2009. Jagad musik kita masih menyimpan berlapis keresahan bagi setiap insan musik atas masa depan karir dan bisnis musik. Kondisi penjualan fisik album sama sekali tidak bisa diprediksi akan melebihi posisi BEP (Break Even Point) sebesar lima kali lipat seperti 10 tahun silam. Sebelumnya, album yang laku sedang-sedang saja masih memiliki peluang bilamana promotion budget ditambah dan promotional activity diperluas ke beberapa medium market yang belum tersentuh.

Saat ini bisnis musik tidak semudah seperti membaca dan membalik Tabloid. Ekonomi Indonesia yang memburuk, menggeser perilaku konsumer dalam membelanjakan uangnya kepada album fisik yang dikuasai oleh format Cakram Padat (CD). Meskipun kita anggap, untuk sebuah judul harga sebuah album tidak begitu mahal yaitu sebesar Rp. 40,000 s/d Rp. 90, 000 untuk album dalam negeri dan luar negeri. Namun besaran ini tetap dirasa berat, apalagi untuk membeli 10 album sekaligus seperti kebiasaan mengoleksi album sekitar 20 tahunan lalu. Adanya internet menjadi alternatif medium mengunduh musik tanpa harus mengeluarkan banyak uang dan beresiko besar bilamana tidak sesuai dengan selera kuping. Begitu juga dengan lapak bajakan yang tersebar di manapun mulai dari kawasan bergengsi seperti Kemang, Tebet, Menteng (Jakarta) sampai di Mal-Mal Besar di sebagian kota besar Indonesia. Ironisnya, lokasi lapak ini sering berhadapan dengan retail musik berlisensi.

Kata ilegal sudah tidak dihiraukan lagi karena di lain sisi juga dibutuhkan dan ada Big Demand. Musisi juga rutin mencari inspirasi dan referensi audio dengan menjadi pelanggan setia lapak-lapak ini. Harga murah yang menjadi kelebihan utama lapak juga didukung oleh beragam judul album yang tidak dirilis oleh major labels di Indonesia atau di-import oleh retail musik di Indonesia. Belum lagi produk visual yang juga dibutuhkan oleh Music Fan dan Music Fanatic. Sama seperti retail resmi, lapak-lapak ini juga menjual Back Catalogue (album-album sebelumnya) dari musisi yang entah dari mana sumbernya. Meski dikompres dalam format MP3, namun produk ini laris manis dan low risk bagi para pembelinya. Dunia memang sudah berubah, sebagian musisi pun mengamini hal ini sebagai alat promosi gratis bagi nama dan profil mereka. 

Sebagai pelaku yang menjalani proses serius mencipta dan merekam, memang kondisi ini melemahkan dan menggetirkan. Akibat faktor internet dan lapak bajakan, Musisi seperti tidak punya kepastian untuk mendapatkan pemasukan segar lagi dari fungsi-fungsi distribusi yang dulu menguasai tombol kerjasama dua arah ini. Namun bagi sebagian besar orang yang merasa beruntung menggunakan kebebasan ini sama sekali tidak mau disalahkan dan dibatasi ruang geraknya. Intinya, mereka suka hanya kepada audio dan musiknya saja dan sama sekali tidak peduli atas kerja keras musisi dan hak atas kekayaan intelektual. Mata rantai penghargaan antar manusia terhenti dalam hal ini dan sulit sekali untuk merekatkannya kembali. Beruntung penampilan live musisi masih memiliki penghargaan dengan penjualan tiket ataupun undangan sponsor. Namun tidak ada indikator yang membuat musisi merasa nyaman.

Manusia memang diberikan akal budi dan pekerti oleh Maha Pencipta untuk bisa menjalani kehidupan senyaman dan sesulit apapun. Berbagai model format pun diciptakan oleh masing-masing musisi bahkan perusahaan besar dengan tujuan berbagi hasil. Memang dalam kenyataan sampai hari ini, banyak musisi yang bisa menerima income dari penjualan Ring Back Tone (RBT) yang dibantu penjualannya oleh Telco seperti AXIS, Indosat, Flexi, Esia, XL Axiata, Three, Smart. Namun income atas konten audio yang dikategorikan dalam VAS (Value Added Service) atau layanan jasa nilai tambah tidak berwujud sama besar bagi setiap lagu yang diaktivasi oleh pengguna handset. Beberapa Musisi memang telah membukukan jutaan kopi namun perlu juga dilihat berapa besar juga Promotion Budget yang ditanam untuk mengekspos keberadaan lagu ini dalam bentuk gimmick-gimmick yang secara satu arah dihantarkan. Namun karena dianggap menjadi format yang tidak bisa didiamkan saja, musisi pun sekarang merasa tidak lengkap bilamana merilis album tanpa kelengkapan kode-kode VAS.

Dari sini saja, kita bisa mencermati kalau dibutuhkan working capital yang tidak sedikit bilamana hendak mendapatkan api yang besar dalam peta perdagangan. Saya memang selalu percaya dengan kalimat “It’s All About The Music” yang akan berbicara pada musik. Namun perihal ekonomi tidak bisa mendukung kalimat ini sepenuhnya lagi sementara ini. Dunia dagang tetaplah dunia dagang yang dipenuhi oleh banyak spekulan yang hanya peduli kepada regular margin yang setelah diakumulasi dapat didistribusikan kepada biaya-biaya yang dapat mengamankan praktek-praktek dagang yang ditempuh. Menurut saya, kisah sedih ini tidak akan punya ‘happy ending’ secara merata untuk semua musisi. Beruntung bagi para pedagang musik yang telah lebih dulu mendapatkan banyak keuntungan dan berpindah industri dan melupakan musik sebagai produk yang mampu menaikkan value negara Indonesia seutuhnya.

Bagi para musisi yang telah menikah dan harus menjadi bread winner untuk keluarga, masa ini teramat sulit untuk mendapatkan jalan pintas meraih income dan cash flow dalam jumlah besar. Sementara di sisi yang berbeda, realita kehidupan tidak bisa menunggu tanpa ada keuangan stabil yang menunjang perekonomian keluarga. Musisi pun memerlukan fokus yang serius dan memakan waktu dan jam terbang yang lama untuk bisa memiliki kemampuan yang baik dalam berbagai macam hal teknikal. Tidak semuanya juga percaya diri untuk bisa melakukan hal lain di jagad entertainment seperti bermusik sekaligus menjadi Master of Ceremony  atau sebagai penyiar radio dan event organizer. Semua lini membutuhkan keseriusan yang tidak menimbulkan konflik waktu dan komitmen. Tidak semua orang juga lahir dengan talenta yang sama satu sama lain. Namun saya yakin bahwa selama musisi berusaha dan memiliki harapan maka tanpa disadari komposisi ciptaan akan mengantarkan revenue streams dalam varian yang berbeda.

Karenanya, tidak jarang sebagian musisi menjadi lemah dan meragu atas pilihan karir yang selama ini mungkin telah membesarkan nama dan profilnya dalam skala Nasional. Konsen saya adalah berapa banyak musisi yang bisa melewati kegetiran ini dan mampu menjaga keutuhan jiwa dan keluarga dengan baik. Terlihat memang tulisan ini konyol namun kondisi psikologis yang melemah akan mengganggu fisiologis juga bila mana tidak ada antisipasi konseling dan keputusan mutlak pada diri musisi. Apakah 10 tahun mendatang kita akan mendengar banyak musisi yang tergolek lemah karena sakit dan tidak memilki dana sementara kita dengan leluasa kopi mengkopi karyanya untuk kebutuhan pribadi kita semata. Apakah humaniora kita sedari sekarang sudah dapat merasakan suara teriak dan tangis musisi sebangsa dan setanah air?

Sekarang bukan waktu yang nyaman untuk mengulas dan merinci seperti apa “Masa Depan Musisi”. Kalimat ini begitu mengganggu dan menyiksa benak musisi dan orang-orang yang berempati penuh dengan musisi seperti saya ini. Sekarang adalah waktunya untuk merubah sedikit demi sedikit atas paradigma penghargaan kita terhadap musisi. Bila anda seorang Entrepreneur yang berhasil, undanglah musisi dan berbagilah ilmu berwirausaha dan berinvestasi agar mereka pun bisa menaikkan taraf hidup pribadi dan keluarga dari aspek yang saling menopang atau berbeda sekaligus. 

Air mata ini ingin berlinang terus bilamana kita sama-sama merasakan ketidak-mampuan para musisi idola kita yang saat ini risau akan lima dan sepuluh tahun ke depan. Apalagi bilamana musisi tersebut berambisi untuk menyekolahkan anak yang proper dan memberi kebutuhan sandang, pangan dan papan yang baik bagi keluarga. Musisi memang sering hidup dalam suasana hiburan yang glamor tapi ada ruang yang sama dengan kita sebagai non musisi. Mari sama-sama berpikir apa yang bisa kita berikan kepada musisi bilamana kita memiliki sesuatu yang bermanfaat. Apalagi bila anda seorang musisi, mari gunakan waktu ini dengan menghubungi sesama musisi untuk bertukar pikiran dengan menciptakan banyak hal positif. WE LOVE YOU INDONESIAN MUSICIANS!@2010aldosianturi

Setiap orang selalu  merespon bila ditanyakan apa musik yang disukainya. Malah si penanya, tidak jarang mendapatkan banyak informasi baru. Inilah hebatnya seni berkomunikasi yang selalu menjadi jembatan informasi manusia. Dari tidak tau menjadi tau, apalagi bila apreasiasinya semakin dalam maka dia menjadi lebih tau.

Berbicara tahun 2010, Promoter Musik Indonesia sudah bekerja keras berusaha menyajikan pertunjukan musik dari musisi luar negeri. Perlu dipahami bila postur bisnis mereka adalah seperti itu, kita tidak perlu menanyakan kapan membawa Musisi Indonesia konser ke luar negeri dan berbagai macam list pertanyaan yang membuat mereka bingung. Biarkan mereka bekerja dan alangkah hebat bila suatu saat hal yang kita inginkan dapat direalisasikan. Never say never right?

Spesialisasi bisnis mereka membuat konten yang diimpor disambut positif oleh penggemar musik dan sponsor tidak mau menyiakan momentum ini dengan membanjiri informasi konser ke semua provinsi dengan baliho besar meskipun musisi tersebut hanya manggung di Ibukota. Sementara bila event di luar Ibu Kota, boro-boro sponsor mau mengekspos acara tersebut di Jakarta. Apa yang dilakukan mereka dengan menampilkan Musisi Indonesia berbagi panggung dengan Musisi Luar Negeri adalah sebuah aksi penuh dukungan yang sebelumnya juga dikonfirmasi ulang dengan manajemen musisi pendatang tersebut. Tidak ada sebuah perjalanan yang sempurna dan bila sudah dikomersilkan pastinya yang kekal adalah kepentingan. Di wilayah ini, kita harus fleksibel membelah unwinable reality sebagai audiens pada umumnya.

Sejenak saya ingin mengulas tentang kiprah musisi dalam negeri ke luar negeri. Keduanya harus seimbang dibicarakan agar kita tau kita bangsa seperti apa. Kita harus bangga sebagai penduduk Indonesia yang memiliki banyak seniman. Diketahui dan tanpa diketahui, ternyata banyak sekali nama yang sudah pernah meninggalkan negeri ini beberapa saat untuk mempertunjukkan karya cipta atau komposisi musik di kawasan Asia Pasifik, Australia, Amerika, Timur Tengah dan Eropa.

Bayangkan bila diciptakan sebuah situs internet sebagai pusat pengarsipan perjalanan ini, maka generasi akan lebih tau siapa dan dimana saja bangsa kita pernah berbagi lewat medium seni. Selama ini informasi yang diterima oleh setiap orang hanya sepotong-sepotong. Bukan budaya baca kita jelek tapi memang setiap orang punya kebutuhan yang berbeda. Namun alangkah lebih baik kalau pembenahan pengarsipan juga membantu persona seni yang kita miliki. Atas kekurangan ini, saya yakin, sebagian besar peer dari para duta bangsa ini merasa kurang diperhatikan oleh Media Nasional bahkan Kantor Berita sekalipun.

Sebagai sahabat atau penggemar dari seniman tersebut, kita tidak perlu kecewa bila eksposur mereka ke dalam tidak begitu besar, karena memang silam media konvensional punya kepentingan yang berbeda terhadap target pembacanya. Tidak semua di dunia ini sesuai dengan kemauan kita dan yang paling penting adalah melihat sisi positifnya saja. Jangan anggap perbedaan itu menjadi kegagalan. Sejarah musik kita punya banyak cerita dalam hal ini dan bukan penyanyi, gitaris, drummer saja namun Disc Jockey pun tercatat melanglang buana menjalankan misi yang sama namun tidak mendapatkan ekspos besar. Sekarang tidak perlu bergantung lagi kepada hal konvensional. Mungkin harapan ini baru terwujud di generasi 50 tahun lagi di Indonesia. Bukan pesimis dan skeptis tetapi berapa lama memang kita hidup di dunia ini? Generasi adalah penerus segala unfinished business di dunia ini.

Sering kita dengar ocehan-ocehan miring seputar berkelananya musisi Indonesia ke luar negeri seperti Amerika dan Jepang. “Ah paling main di depan orang-orang Indonesia yang ada di dua negara itu”. Selalu dan selalu banyak sekali ocehan miring ini. Seharusnya kita mengamini apa yang baru terjadi ini dimana sesama saudara bila saling mengunjungi dalam medium seni. Dan ketika perhelatan tersebut berbeda cerita, kebanyakan pun mencari-cari simpul kekurangan atau latar belakang negatif. Kenapa Why Kenapa? Kenapa kita tidak saling membangun bangsa dengan memberikan support meskipun musik Anang dan Syahrini bukan selera kita. Biarkan hal itu terjadi dan tidak ada untungnya juga kita mencela karena malah akan menghambat people power untuk bangkit bersama. Periode itu akan tidak pernah diteruskan oleh generasi kita bila fondasi tersebut tidak dibangun oleh kita.

Tidak ada yang bisa melarang kita bersenyawa dengan budaya populer dari negara barat. Namun musti diingat kita bukan orang barat dan kita juga sekarang bingung menjadi orang Indonesia karena locality yang bergeser dan perlahan menghilang. Setiap kita bicara Indonesia, selalu berhubungan dengan konteks etnik dan berapa banyak orang langsung paranoid dengan kebinekaan yang kita miliki. Ketika bangsa lain mengimprovisasinya maka kita naik pitam dan mengumbar kalimat kasar kepada mereka. Untuk merubah hal ini, semua ada di tangan kita masing-masing dan harapan saya kepada para pembuat keputusan agar tidak lagi memanufaktur dan mengamputasi bibit-bibit seniman dalam menemukan jati diri kreatif yang sebenarnya. 

Bila kita aktif di jaring media sosial, maka informasi tentang Musisi Indonesia yang berangkat ke luar negeri dapat kita temui mulai dari berangkat naik taksi ke bandara, check in, boarding, sound-check dan plesiran semua ada sumber informasinya. Namun kita juga punya batasan untuk mengetahui semuanya meskipun kita adalah pewarta di jaman sekarang ini. Yang penting buat kita adalah mendukungnya. Karena siapa lagi yang mendukung mereka kalau bukan kita yang mengklaim diri kita menyukai musik dan mencintai Tanah Air Beta ini.

Pemerintah kita berbeda dengan Kanada yang membuat sebuah badan pendana yang bernama FACTOR (The Foundation Assisting Canadian Talent on Recording) semua musisi yang berasal dari sana mulai dari Rush, Bryan Adams, Justin Bieber, Nelly Furtado, SUM 41, Celine Dion, Michael Buble. Semua musisi ini diberikan pinjaman lunak untuk beralbum sehingga kelak membawa nama negara mereka kemana saja. Kita masih jauh sekali dari realita ekspansi ini. Kita semua masih senang berbicara tentang diri sendiri daripada berkebersamaan. Dan semoga ini menjadi doa kita tanpa membedakan aliran musik apapun. 

Sekarang kita semua adalah konten global dan semuanya harus bisa menyebut dirinya “I AM THE BRAND”. Kita tidak perlu menunggu dan membayangkan Indonesia memiliki properti yang dimiliki negara lain. Kita saling membantu dan mengekspos semua musisi kita yang berkesempatan datang, diundang, disponsori manggung di negara lain. Siapapun itu tanpa terkecuali. Tidak ada yang pernah tau kapan datangnya sebuah kesempatan menarik. Yang terpenting bagi musisi adalah tetap mencintai passion seni dan melatih kemampuan instrumentasi agar memiliki karya cipta yang terbaik, Setiap negara punya permasalahan Industri Musik yang saling berbeda kita bisa melalui semua itu dengan saling berbuat baik dan tidak mencari keuntungan yang tidak masuk akal. Maju Terus Musik Indonesia@2010aldosianturi

Di saat karya cipta musik diperdengarkan lewat berbagai medium, secara natural gabungan elemen dalam musik beresonansi ke dalam hati setiap orang yang mendengar lewat indera pendengaran. Di saat karya cipta musik tersebut pun ditonjolkan secara visual, maka hal yang sama pun merayap ke hati dan benak yang sama. Dalam waktu sekian detik, seseorang bisa langsung merasa bahwa musik yang baru didengarkan sangat cocok untuk hatinya dan mewakili perasaan dan juga sebaliknya. Abstraksi ini selalu terpelihara dan survive dalam musik dan parameter orang lain pun terkadang tidak bisa diterima satu sama lain.

Namun ada kalanya juga, seseorang yang tadinya menolak sebuah lagu berbalik menjadi sangat peduli terhadap karya cipta lainnya dari musisi yang sama. Musik terbebas dari parameter apapun, karena musik adalah suara hati pribadi atau bersama. Inilah yang menjadikan Musik sebagai Bahasa Universal. Namun adanya aliran musik yang saling berbeda melemahkan statement tersebut. Kerap kali aliran musik yang satu dan yang lain menyuarakan paham sosial yang tidak bisa bersatu. Kalau sudah begini, dimana letak Bahasa Universal lagi? Namun inilah realita dimana penerimaan dari Manusia terhadap musik yang membuat suasana menjadi nyaman dan tidak lantas bercabang anarkis. 

Kembali lagi ke impresi yang dinikmati dan digemari oleh pendengar musik kemudian mengekspos sebuah kata unik yaitu Penggemar. Seperti apa sebenarnya profil dari insan eksternal di luar musisi ini? Sangat tidak masuk akal bilamana kita mem-breakdown kalau Penggemar adalah seseorang yang mengumpulkan semua rilisan fisik/digital, merchandise dan selalu hadir acapkali musisi yang digemari muncul di berbagai venue atau di layar kaca. Itu adalah tangible parameter dari sekian banyak hal yang sudah tidak mungkin lagi dibelah-belah agar semua orang setuju bahwa profil penggemar adalah statis dan permanen seperti itu. Karena setiap zaman dan setiap generasi memiliki cara pandang yang saling berbeda.

Dalam menggemari Musisi, setiap orang dan setiap peer punya cara tersendiri mewujudkan kegairahan ini. Ada yang berjuang untuk bertemu langsung dengan Musisi meski bukan satu kota atau satu negara. Ada juga yang mengikuti dan mengumpulkan seluruh pemberitaan tentang kegemarannya bahkan sampai membuat kliping. Ada juga yang hanya diam seribu diam, agar teman-temannya tidak usah ikut-ikutan mengemari Musisi tersebut juga. Inilah sebuah kegemaran yang punya beragam cerita belakang. Namun bagi sebagian penggemar umum biasanya mereka telah mengalokasikan atau menabung budget untuk membeli produk yang menjadi bagian dari eksistensi Musisi tersebut.

Rasa senang ini berkembang dan terus berkembang selama ekspektasi yang diinginkan penggemar terwujud. Namun apa kisahnya jikalau penggemar merasa bertentangan dengan perubahan atau kalimat yang datang dari Musisi kegemarannya? Sudah pasti kita cuma bisa mereka-reka saja bilamana kita berusaha menjabarkan hal tersebut. Namun di jaman internet yang mudah untuk mengekspresikan sesuatu ini, maka semua hal positif dan negatif tidak bisa dikontrol lagi. Seseorang bisa saja langsung mengumbar kesedihan dan kebencian terhadap Musisi. Bilamana didengar oleh non penggemar yang berseberangan, maka situasi pun semakin runyam bila dihadapi dengan kepala panas. Press Conference pun saking keseringan digelar tidak bisa menjadi simbol pengertian akan sebuah isyu lagi sekarang.

Tidak semua Musisi juga sudah menyiapkan segala sesuatu yang mengada-ada dalam wilayah gemar-menggemari ini. Sebagian musisi murni mencipta musik dan menghibur dan sebagian sudah yakin sekali kalau akan dihubungi oleh siapapun yang menggemari baik musik dan fisik. Dulu praktis di dalam album disediakan alamat korespondensi dan sekarang cukup alamat surat elektronik saja. Permintaan yang beragam akhirnya diakumulasi oleh Manajemen Musisi sebagai sekumpulan penggemar yang musti diseriusi dan dihormati karena telah menanggapi penampilan dan membelanjakan uangnya untuk membeli produk fisik. Momentum ini jelas bagus karena membuat Musisi jadi kaya resource. Dari surat atau bahasan yang diberikan penggemar, maka beberapa hal dirangkai dan dipikirkan menjadi sebuah inspirasi yang menarik dalam mencipta karya musik.

Namun banyak juga Musisi yang sama sekali tidak peduli dengan penggemar. Entah karena memang tidak punya ide atau memang tidak peduli. Hal ini kembali lagi ke kondisi fisiologis dan psikologis setiap orang. Disinilah kedua lawan bicara dan lawan kapasitas ini harus memiliki penerimaan atas sebuah keadaan. Tidak lantas mengatakan kalau Musisi ini sombong dan belagu. Semua itu terlalu pagi untuk diucapkan dan sebaliknya Musisi juga tidak langsung mengatakan bahwa lawan bicaranya ribet atau demanding. Sungguh ini bukan hal yang harus dipelihara melainkan diimprovisasi agar suasana nyaman tercipta diantara kita penggemar musik. 

Penggemar ada karena Musisi ada. Namun tidak juga seperti itu, penggemar itu punya jam pasir sendiri untuk mengatakan berhenti dan terus. Inilah yang menjadikan ada kalimat Penggemar Setia yang mengklaim dirinya mengikuti perjalanan musik dan pertumbuhan Musisi dari awal sampai sekarang dan tidak ada yang menggantikan profil ini. Namun semua ini kembali lagi semua tidak ada parameter saklek. Kita semua hanya bisa menukas per pengalaman saja, baik pengalaman pribadi atau cerita dari orang yang berbeda. Di dunia yang tanpa batas ini, kapasitas Penggemar Musik pun menjadi lebih berkuasa menaikkan dan menjatuhkan profil Musisi. Namun sebenarnya tidak seperti itu, kita semua ada di level yang sama dalam mendengarkan dan merespon Musik dan Musisi. Kita hanya membutuhkan kalimat saling menghormati sesama agar bisa merayakan kebahagiaan bersama. Jadikan Musik sebagai pemersatu bukan pemecah dan hindari debat kusir tentang musik. Bila tidak sepaham bicarakan dengan kepala dingin dan jangan bakar hubungan karena musik. 

Berinvestasilah sebagai Musisi dan Penggemar. Tidak ada yang perlu diperdebatkan dengan sebutan ekslusif yang berbeda huruf dan nilai internal. Contohnya Slankers, Baladewa, Kampiun, OutSIDers & Lady Rose, ST Setia, Sobat Padi, Brigade Rock n Roll ‘ , Rakjat /rif dan lain sebagainya. Music Always Brings People Together! @2010aldosianturi/Photo: Internet

Seperti apa karakter musisi? Untuk hal ini, sudah pasti saya tidak bisa mendeskripsikan, karena karakter itu adalah sebuah keunikan yang dimiliki masing-masing insan sejak awal kelahiran di bumi ini. Yang saya angkat adalah New Age, dimana banyak Musisi Indonesia yang tidak bisa dilepaskan keberadaannya di Twitter dan Koprol. Seperti kita ketahui, bahwa layanan model media sosial dari dua nama tadi masuk dalam format mikroblog. Dimana setiap pengguna dapat menampilkan pesan apapun dengan dibatasi sebanyak 140 karakter huruf. 

Bagi para pencerita dan pengulas pesan berantai seringkali batasan ini menjadi penghalang, namun bila kita menempatkan diri kita sebagai musisi yang bukan hanya bertemu dengan teman baik kita, teman sesama musisi namun berkoneksi dengan penggemar dan calon penggemar dari dunia manapun, maka lambat laun kita menemukan formula perbincangan seperti apa yang menguntungkan seluruh pihak.

Dimanapun tempatnya dan apa nama medium komunikasinya pasti selalu diisi oleh dua unsur yang berlawanan. Kita harus menerima kalau ada yang setuju dengan kita dan ada yang tidak setuju dengan kita. Apalagi bahasa tulisan berbeda dengan bahasa lisan, dimana kita tidak bisa mengikuti tune dari maksud penyampai. Belum lagi kalau mood dua belah pihak sedang dalam kondisi resah, kacau balau dan tidak terkontrol, otomatis output komunikasi bisa sampai dengan pengertian yang salah. Bila sudah begini, maka tidak terelakkan kalau argumentasi tidak membuat nyaman para pengikut lainnya. 

Di dalam medium ini, semua jenis musik diperbincangkan mulai dari kesukaan atas sebuah aliran sampai kebencian. Ini hal yang biasa di dalam dunia. Namun setiap orang harus memiliki kendali yang baik untuk mengemudikan nama baiknya sendiri. Tidak ada salahnya diam dan tidak ada salahnya juga rajin menginformasikan apa yang anda lakukan sebagai musisi. Mulai dari persiapan membuat album, bertemu dengan sesama musisi dan komunitas musik, membeli USED CD atau bersiap untuk naik ke atas panggung untuk check-sound atau tampil di depan 10 orang atau 20,000 orang. Itu hak pemilik nama dan tidak ada yang bisa mengontrol apa yang diucapkan sesesorang di medium kuantum ini.

Pahamilah kalau setiap orang berbeda dan bukan berarti diam itu tidak memperhatikan musik dan movement yang dibangun. Yang paling penting adalah berusahalah selalu jujur dan tidak berlebihan. Rajinlah menyapa teman lama dan baru agar keseimbangan terjadi. Namun batas penerimaan seseorang juga berbeda pola, bila anda ingin menawarkan sesuatu, berusahalah merangkai kalimat yang nyaman dibaca dan tidak dikirimkan dalam jarak waktu lima menit sekali. Buatlah interval waktu agar pesan anda dapat dinikmati, diresapi dan diteruskan kepada pengguna lain. 

Pahami juga kalau setiap industri yang berbeda punya glossary yang berbeda pula. Ada baiknya anda tidak menganggap bahwa semua orang punya pengertian yang sama atas pesan yang anda kirim. Pikirkan generasi di bawah usia anda yang juga ingin menikmati butir pengalaman dari anda. Vocabulary setiap orang berbeda-beda dan berikanlah definisi atas kata yang tidak umum bila anda ingin diterima dengan lengkap pesannya. 

Semua semakin instan sekarang. Bayangkan, 140 karakter direstui menjadi sebuah panjang pesan yang tidak bisa ditawar. Dimensi ini mengingatkan saya kepada kondisi generasi muda penggemar musik lebih peduli kepada Lagu Hits daripada mendengarkan album berdurasi lima puluh lima menit lagi. Semua berubah menjadi “I Want It Now Generation”.  Setiap musisi pun punya komunikasi publik yang saling berbeda. Ada yang piawai membuat pesan interaktif dan ada juga yang tidak mau sama sekali berinteraksi lebar.

Semua itu kembali lagi kepada setiap orang, namun bagi anda yang ada di model komunikasi ini dan siap berbagi dalam hal apapun, silakan menjadi diri anda sendiri dan saling menghormati tanpa harus membedakan mana teman dan mana followers. Semua adalah Satu. Kalimat We Are The People sudah tidak relevan lagi. Sekarang adalah I Am The People. Jadi anda adalah wakil dari semua orang dan mari kita berinteraksi tanpa harus memikirkan waktu untuk berhenti.@2010aldosianturi / Image Credit: Internet

Musik penuh keceriaan dan kebahagiaan. Semakin lama kita menguasai bidang ini, maka semakin banyak pula teman dan peluang kita untuk mendapatkan rezeki. Namun sambil menjalani kegembiraan itu banyak orang yang tidak ingat akan diri dan perencanaan keuangan untuk masa depan. Akhirnya kebablasan dan berujung kepada kehampaan investasi atau tabungan. Menjadi musisi jaman sekarang bukan berarti mengulang-ulang kesalahan sebagian besar musisi jaman dulu yang tidak peduli terhadap dirinya. Kini, semua harus lebih piawai mengelola pendapatan meski berapapun yang diterima.

Saya sangat peduli dengan Musisi. Bukan sebatas sepak terjang beralbum atau rekaman saja tapi bagaimana Musisi bisa menjalani kehidupan di dunia secara nyaman sampai masa tua nanti. Inilah bentuk sharing informasi di Blog Indiepreneur ini, dimana setiap orang bisa memetik manfaat positif untuk realita yang dipilih. Silakan dibaca dan dipikirkan matang-matang apa yang disampaikan sahabat saya Mas Safir Senduk yatu seorang Pakar Perencanaan Keuangan di Indonesia melalui Interweb kali ini. Follow beliau langsung di Twitter dengan ID @SafirSenduk dan berkoneksilah. 

1. Dear Mas Safir Senduk, thanks for your time and please tell us a little bit about yourself and your business?  

Nama saya Safir Senduk, lahir 19 Des 73. Profesi saya Perencana Keuangan yaitu seseorang yang bertugas membuat saran Rencana Keuangan bagi klien dalam mencapai Tujuan-tujuan Keuangannya. Pada tahun 1998, saya mendirikan Safir Senduk & Rekan, sebuah Biro Perencanaan Keuangan yang tugasnya membantu klien (Perorangan & Keluarga) dalam mencapai Tujuan-tujuan Keuangan sepert

  • Tujuan2 Jk Pendek (spt. bagaimana mengelola penghasilan, membayar pengeluaran-pengeluaran agar efektif, dsb)
  • Tujuan2 Jk Menengah (spt. bagaimana membeli Kendaraan & Rumah dalam 1-5 tahun ke depan)
  • Tujuan2 Jk Panjang (spt. bagaimana Mempersiapkan Pensiun dan Uang Sekolah Anak dalam Jk Panjang)

Dalam perkembangannya, kantor Safir Senduk & Rekan sekarang memiliki 3 Konsultan Perencana Keuangan (termasuk saya), dan aktifitasnya ada 3:

  1. Memberikan Konsultasi kepada Klien (perorangan & keluarga),
  2. Memiliki Rubrik berupa Tulisan maupun Suara di Sejumlah Media Massa Umum & Internal Perusahaan tentang Perencanaan Keuangan,
  3. Memberikan Seminar & Pelatihan kepada Umum maupun Internal Perusahaan, dengan topik perencanaan keuangan. Contoh: “Bagaimana Karyawan bisa Mengelola Gaji agar Sejahtera.

Secara pribadi, saat ini saya telah menulis 10 buku tentang Perencanaan Keuangan, yg saya tulis dalam rentang waktu 1999 s/d 2009 lalu. Semua diterbitkan oleh Penerbit PT Elex Media Komputindo.

2. Bagaimana kiat merencanakan keuangan yang efektif untuk para pekerja kreatif di bidang musik? Realitanya pemasukan yang diterima adalah tidak tetap atau per proyek bukan seperti pegawai perusahaan yang menerima gaji bulanan?  Gampang!

  1. Menabunglah setiap kali dapat Penghasilan. Kalau Karyawan mendapatkan Penghasilan 1x /bln setiap tgl 1 misalnya, maka sebaiknya dia langsung menabung setiap kali dia dapat gaji. Nah, kalau Musisi, dimana penghasilannya per project, misalnya setiapkali mencipta lagu terus membantu musisi rekaman sampai lagu itu bener2 jadi, terus dia langsung dapat honor Rp 10 jt misalnya (mohon koreksi kalau angkanya kerendahan atau ketinggian), maka sebaiknya langsung tabungkan sebagian dari Honor tersebut. Minimal 10%, kalau bisa Lebih ya lebih bagus.
  2. Miliki Asuransi Kesehatan. Banyak Musisi yang tidak memiliki Jaminan Kesehatan kalau dia sakit. Gak masalah, dengan mengambil Asuransi Kesehatan, maka dia bisa merasa aman kalau terkena Risiko Sakit.
  3. Kalau dia sudah punya Tanggungan seperti Keluarga, miliki juga Asuransi Jiwa. Jangan sampai kalau dia meninggal dunia, keluarganya terlantar. Kasian kan?
  4. Punya Dana Cadangan. Ini penting karena ada beberapa musisi yang dapat duitnya gak tiap bulan, tapi kosong dulu 1-2 bulan, baru dapat duit lagi. Disini, Dana Cadangan bisa membantu dia menghidupi diri dan keluarganya selama Penghasilannya lagi Absen.

3. Ketika kebutuhan mendesak, sedangkan income belum pasti, apakah musisi memerlukan Kartu Kredit?Apakah cara kredit membantu atau justru memberatkan? Apa kiat yang baik dalam menggunakan layanan kartu kredit ini?

Kredit bisa sangat membantu bagi mereka yang penghasilannya tidak tetap. Dengan penghasilan tidak tetap, punya Kartu Kredit bisa membantu. Asalkan inget, pakai Kartu Kredit itu hanya untuk pengeluaran bulanan saja (Wajib+Butuh), bukan untuk membeli hal-hal yang sekedar kepengen (Ingin).

 4. Bagaimana cara menabung yang baik di saat musisi punya kebiasaan menombok uang yang mau tidak mau harus dipinjam lebih dulu untuk kebutuhan transportasi atau penampilan?

Cara Menabung yang baik:

  1. Menabunglah di depan, di awal begitu Honor di dapat. Jangan dibelakang setelah uangnya dipakai belanja. Nanti uangnya habis terus jadinya gak ada yang bisa ditabung.
  2. Jangan tabungkan ke Produk Investasi yg Uangnya gampang diambil, tapi tabungkan ke Produk Investasi kayak Tabungan Berjangka, atau Reksa Dana.

5. Apakah penting bagi musisi untuk memiliki Asuransi? Bentuk asuransi apakah yang baik diinvestasikan oleh musisi yang masih berstatus lajang dan yang sudah menikah dengan memiliki anak?                                

Penting. Sudah dijawab di tips 2 dan 3 di Pertanyaan Nomor 1 tadi. Buat yg Masih Lajang: Asuransi Kesehatan. Buat yang sudah berkeluarga: Asuransi Kesehatan + Asuransi Jiwa. 

6. Investasi semacam apa yg sesuai untuk orang musik dimana income yang belum stabil? Apakah musisi bisa mencicil tempat tinggal? Apakah harus membeli emas batangan? Apakah masukan yang paling masuk akal agar hari tua musisi bisa nyaman?

Investasi yg cocok untuk Orang Musik yg Penghasilannya belum stabil adalah investasi yang Tidak Mudah Dijual, tapi juga Tidak Sulit Sekali untuk Dicairkan. Deposito masih oke, karena dia bisa diambil yg Jk Waktu 1 Bulan. Reksa Dana juga oke, karena 4 hari kerja juga udah bisa dicairkan.

Beli Emas Batangan boleh, tapi pastikan kita punya Deposito & Reksa Dana dulu. Ini karena Emas Batangan kan bukan Investasi yg Likuid Sekali. Untuk Persiapan Hari Tua, coba pertimbangkan untuk menabung buat beli Rumah, yg ujung2nya nanti disewakan/dikontrakkan. Hidup dari Rumah diKontrakkan atau diKos2an kan sangat cocok untuk Hari Tua Musisi. Asal jangan dari 1 rumah, tapi beberapa rumah. Makanya cari project yg banyak biar bisa beli rumah.

7.  Bila beruntung memiliki pendapatan besar dari penjualan album, ringbacktone, iklan dan lain2, seperti apakah keputusan musisi untuk menginventasikan uangnya ke inventaris produksi seperti alat musik/ alat perekam? Berapa persen rasio penghasilan yang harus tetap ditabung?

Alat Musik sangat2 penting buat Musisi. Berapapun harganya, kalau memang dibutuhkan, beli. Tapi pastikan bahwa barang yang mau dibeli tersebut memang betul-betul dibutuhkan. Bukan sekedar kepengen beli karena LAPAR MATA. Yang terakhir ini soalnya yang banyak terjadi: sebenarnya sih cuma ingin aja, tapi ngomongnya butuh. Itu excuse namanya. Berapa persen penghasilan dari project2 musisi yang sebaiknya ditabung? Minimal 10%. Lebih boleh, kurang jangan.

8. Sentralisasi bisnis musik masih terpusat di Ibukota yaitu Jakarta. Bagaimana pandangan Mas Safir Senduk terhadap musisi yang pindah kota karena tidak sanggup menutup pengeluaran regular yang harus dibayar setiap waktunya? Apa yang terbaik bila kondisi-nya seperti ini?

Gakpapa juga. Salah satu cara menghadapinya adalah mencari job2 musik yang memang tidak terlalu sering membutuhkan pekerjaan yang bersentuhan dengan lain orang di kota lain. Menulis Lagu misalnya (mohon koreksi kalau saya salah). Di bidang saya, orang yang menulis buku bisa menulis buku dengan sangat2 bagus sementara dia tinggal di kota pedalaman. Begitu bukunya jadi, dia tinggal kirim ke penerbit di Jakarta. Kalau penerbitnya minta ketemu, baru dia terbang ke Jkt untuk ketemu.

9. Bagi para musisi yang kondisi finansial-nya belum stabil dan mau mengolah uangnya di bidang bisnis yang lain, hal apa saja yang penting dicatat sebelum segalanya dimulai?

Pastikan bahwa musisi itu harus tetap menanamkan cita2 yg kuat di pikirannya tentang mana keberhasilan utama yang lebih ingin dikejarnya. Kalau seorang musisi yang belum begitu stabil kemudian dia mengolah uangnya dalam bentuk restoran kecil di rumahnya, gpp juga. Yang penting dia tetap harus punya cita2 bahwa dia tetap harus berhasil di industri musik. Mungkin dengan penghasilannya dari bisnis lain, dia jadi punya modal untuk bikin album sendiri mungkin?

10. Apakah penting bagi musisi menciptakan tim manajemen untuk mengelola pemasukan yang didapat dari berbagai sumber? Karena tidak mengerti latar belakang manajemen keuangan, apa yang terbaik dilakukan musisi tersebut agar semua pada tempatnya?

Penting sekali, biarpun mungkin bukan keharusan. Tapi kalau memang bisa, sangat bagus. Jadinya dia bisa konsen ke Kerja Kreatif.

11. Musisi seringkali lemah bilamana berhadapan dengan gaya hidup menghamburkan uang membeli minuman keras atau membeli banyak barang yang tidak perlu. Bagaimana masukan Mas Safir Senduk agar masa tua musisi bisa lebih nyaman secara finansial?

 Minuman Keras dan Narkoba seringkali diidentikkan dengan profesi tertentu. Ini menurut saya tidak adil karena gak semua profesi tertentu seperti itu. Banyak musisi yang saya yakin bersih dan bekerja dengan baik tanpa gangguan semua itu. Menurut saya sih, kita harus pintar2 mengatur lingkungan kita. Kalau memang kita mendapatkan lingkungan yg tidak baik, perkuat diri kita dengan iman. Masa Tua Musisi supaya lebih nyaman secara financial bisa diraih dengan cara menabung & investasi. Gak ada cara lain. Kalau Indonesia punya Dasar Negara seperti Pancasila & UUD 1945, maka dalam keuangan, dasarnya adalah Investasi. Ingatlah bahwa Mengeluarkan Uang itu 5x lebih gampang daripada Mendapatkannya. Contoh: Gak gampang cari perusahaan yang mau ngundang kita untuk manggung musik di acara mereka. Perlu usaha keras. Tapi begitu uang sudah di tangan, hari ini Anda keluar mal pun uang itu bisa langsung habis. Jadi supaya masa tua musisi bisa nyaman, pegang baik-baik uang yang memang sudah di tangan, dan investkan ke investasi yang memang menghasilkan..

12. Apakah musisi harus rutin setiap tahun bekerjasama dengan konsultan pajak dan konsultan keuangan guna menghilangkan keresahan-keresahan dalam hal finansial?

Kalau Ordernya banyak dan bervariasi, Konsultan Pajak perlu. Konsultasi dengan Perencana Keuangan saya pikir juga perlu. Ibarat orang yg tersesat dalam hutan, seringkali seseorang tidak bisa lolos dari hutan karena pandangannya tertutup kabut dan banyaknya pohon. Tapi kalau ada seseorang dari atas helicopter mendatangi dia dari atas, orang itu – karena viewnya lebih luas – bisa menuntun orang yg tersesat ini keluar hutan. Artinya, seringkali orang terlibat terlalu dalam dengan kondisinya sendiri sehingga seringkali dia jadi tidak obyektif, sehingga peran orang yang pikirannya masih ‘clear’ dan obyektif bisa membantu dia keluar dari segala masalahnya.

13. Bilamana musisi memiliki kesempatan pergi ke luar negeri karena diundang tampil atau berlibur, bagaimana kiat mengelola keuangan agar tidak bablas dan kembali dengan kondisi minim kembali?

Jangan Lapar Mata. Kalau mau beli alat musik di Luar Negeri, pastikan:

  1. Alat itu memang dibutuhkan,
  2. Alat itu memang tidak ada di Indonesia atau kalaupun ada, jauh lebih murah kalau beli diluar dan dia memang belum punya.

Tanamkan dalam pikiran bahwa penghasilan dolar itu dan bisa ditabungkan untuk persiapan masa depan. Ingat bahwa Penghasilan Dolar itu gak gampang didapat. Ingat kata saya: Mengeluarkan Uang 5x Lebih Mudah daripada Mendapatkannya.

14. Musisi sekarang mau tidak mau harus dekat dengan sumber informasi dan proaktif melakukan komunikasi, bagaimana hal yang baik untuk mengatur keuangan untuk biaya komunikasi?

Komunikasi gak selalu harus dengan telfon. Sekarang internet sudah bisa banyak membantu memurahkan biaya komunikasi kita. Dan ingat, berkomunikasi itu – bagi profesi apapun – adalah suatu keharusan. Tipsnya: jangan berkomunikasi hanya kalau lagi butuh. Ikut gabung di komunitas milis, ikut fesbuk, ikut twitter, say hai, pastikan bahwa kita exist dan ada. Order bisa datang kalau kita menunjukkan keberadaan kita.@2010aldosianturi / Photo Credit: Property of Safir Senduk & Rekan

Berikut adalah alamat lengkap Safir Senduk bilamana anda ingin menghubungi:                                                                                     

Biro Perencanaan Keuangan SAFIR SENDUK & REKAN / Wisma GKBI Lt, 39, Rg. 3901 / Jl Jenderal Sudirman No 28 Jakarta 10210 – Indonesia / Telepon (021) 57998024 / Email: ssrekan@perencanakeuangan.com / www.perencanakeuangan.com

Musisi mencipta dengan maksud dan tujuan yang berbeda dan tidak ada yang tau isi pikiran itu kecuali musisi itu sendiri. Namun tujuan yang paling penting adalah ketika mendistribusikan karya musik tersebut adalah membuat hati orang menjadi senang saat mendengarnya. Jelas salah kaprah kalau merilis musik untuk mengetes kuping audience atau market test. Teguhkan hati sedari awal kalau anda menyalurkan talenta dan rasa yang anda miliki tanpa punya agenda ekstrim yang malah membatasi langkah ke depan.

Saat musik anda disenangi banyak orang sekaligus dibantu diperluaskan lewat jaring media sosial apapun, maka nama dan karya cipta pun bersamaan mendapatkan apresiasi. Tahap selanjutnya teman maupun penggemar berharap untuk bisa melihat penampilan untuk tujuan yang berbeda pula. Ada yang untuk mempelajari cara anda tampil bermusik, ada yang ingin mengekspos suasana berdekatan lewat sosial media ada juga yang ingin menikmati musik anda secara langsung dan semua itu kembali lagi ruang-ruang personal setiap orang.

Namun bagaimana bila teman anda atau penggemar anda tidak punya uang sama sekali untuk membayar harga penampilan anda yang tidak terjangkau oleh mereka. Apakah anda akan merespon dengan pendirian permanen bahwa “Setiap Penampilan Apapun, Saya Harus Dibayar Pantas!”. Wah inilah malapetaka awal dari musisi yang tidak punya fleksibilitas terhadap kondisi kehidupan yang tidak sama. Tanpa disadari, maka musisi tersebut sudah membatasi dirinya dengan dimensi masa depan atas eksposur diri yang dilakon. Model pemikiran seperti ada di sekitar kita dan biasanya berujung ke situasi dead end. Namun tidak semuanya berasal dari musisi, bisa juga ulah ini keluar dari keputusan dan cara kerja Band Manager. Tetap saja komitmen ini harus direvisi di jaman sekarang.

Memang kita juga harus selektif menanggapi undangan atau tawaran untuk tampil Pro Bono alias Tanpa Bayaran alias Gratis. Itulah gunanya punya networking! Dengan mudah kita bisa mencari tau dan bertanya kepada teman-teman sesama yang juga diminta tampil di acara tersebut. Namun kalau kita sendiri sebagai penampil ada baiknya kita minta waktu bertemu untuk berbicara lebih jauh lagi mengenai detail dari acara tersebut. Manggung Gratisan bisa dilakukan bukan hanya di satu kota yang ditempati. Di provinsi lain pun bisa dilakukan selama semua komunikasi telah membuat kita nyaman dan tidak bentrok dengan Sponsor Utama yang membiayai perjalanan kita di area tersebut. Di dalam bisnis ada etika yang harus diteladani agar membuat semua orang senang dan bahagia.

Paska Kerusuhan 1998, semakin sering kita mendengar banyak acara panggung gratis, sudah terbayang kalau musisi pulang-pergi dengan uang transport sendiri atau kolektif. Namun semua kembali ke konteks acaranya. Yang sering kita dengar belakangan ini adalah Konser Donasi dimana musisi tersebut manggung tanpa menerima satu sen uang. Ini adalah salah satu medium yang bisa disikapi dengan baik atas kebersamaan dan rasa sosial yang dimiliki. Acara seperti ini patut didukung selama fondasi atas visi dan misi ini mulia dan tidak dikotori oleh perlakuan/pemikiran yang berseberangan.

Namun banyak juga Event Organizer yang sedari awal punya niat yang tidak baik untuk berbisnis. Mereka akan selalu berusaha mencari margin tinggi dengan menekan dan mencari alasan agar pengisi konten bisa dibayar dengan murah. Berhati-hatilah dengan yang satu ini, karena oknum negatif akan mempengaruhi banyak orang dengan mengatakan bahwa musisi ini murahan dan sebagainya. Bilamana anda bertemu dengan situasi ini menghindarlah segera. Lose To Win!

Bagaimana juga bila menerima penawaran manggung gratis tapi bukan dalam konsep acara besar yang melibatkan media massa? Di sinilah kita mempergunakan cara pandang kita akan hal tersebut. Berusahalah untuk memiliki pikiran positif terhadap semua realita yang ada di depan mata. Siapapun orangnya tetap dapat mengambil manfaat dari situasi apapun di dunia ini dengan menjalaninya secara ikhlas. Pandanglah jauh kalau kompensasi atas medium acara tersebut dapat menjadi ajang untuk lebih dekat dan memperluas keberadaan sebagai musisi berikut karya ciptanya. Siapkanlah diri anda dan tim untuk bersilaturahim dengan para audience yang ada sekaligus menyebarkan kartu nama bilamana mereka ingin menghubungi untuk keperluan penampilan masa depan.

Kita tidak pernah tau kalau ternyata kita bisa menemukan kolaborator yang baik untuk mengembangkan skill yang kita miliki dari setiap bentuk event dan jangan buat jarak antara anda dengan audience. Berusahalah untuk melanjutkan komunikasi yang positif, ceritakanlah pengalaman anda di penampilan sebelumnya dan berusahalah menjadi point of inspiration. Ini juga menjadi suatu tempat yang pas juga untuk menjual album plus merchandise agar mereka bisa menikmati karya cipta yang baru saja disimak langsung. Dengan memahami bahwa situasi ini adalah natural di dunia ini, maka semesta pun akan membantu perjalanan karier anda untuk mendapatkan tawaran-tawaran spesial. Percayalah bahwa lebih banyak hal positif yang anda terima dari Manggung Gratisan daripada hal negatif. Jadikan jalur ekposur ini sebagai investasi hubungan baik bagi siapapun orang di dunia ini dan hadapilah semua bentuk eksposur dengan ilmu manajemen yang komprehensif. Pahamilah selalu bahwa uang tidak selamanya mendatangkan kebahagian instan.

Semoga anda lebih percaya diri dan siap untuk membuat diri dan musik anda lebih tersedia bagi siapapun. @2010aldosianturi

Convenient Store adalah sebutan bagi toko serba lengkap berisi beragam kebutuhan sehari-hari yang berlokasi di daerah tertentu yang strategis. Biasanya jam operasional toko ini adalah berdurasi 18-24 jam dengan shift karyawan antara 1-3 kali rotasi. Diantaranya adalah Circle K, Indomaret, CU 24, Alfamart, Smile dan Seven Eleven. Semua toko ini bebas melakukan perdagangan karena Indonesia tidak memiliki “Jam Malam” dan gaya hidup dan budaya manusia yang mengalami pergeseran. Kita bisa bolak-balik datang dan bahkan melepas lelah dengan berada di sana bersama komunitas. Ini adalah salah satu bentuk globalisasi atas merek dagang luar negeri yang jelas-jelas mendapatkan izin berdagang dari Pemerintah Indonesia.

Keberadaan Convenient Stores menstimulus perekonomian kota-kota besar setempat sehingga banyak juga pemain lokal yang melakukan bisnis yang sama. Bagi para penduduk kota besar, umumnya sudah beradaptasi dan terbiasa membeli kebutuhan cepat saji di saluran pasar ini. Beragam manfaat pun dirasakan meskipun harus membayar lebih dari harga yang didapat di kios tradisional yang selama beratus-ratus tahun ada di Indonesia. Sebagai tempat yang dikunjungi oleh kebanyakan anak muda, maka tempat ini mengerti kalau tidak ada salahnya untuk menambah varian penjualan yaitu Produk Musik.

Nah ketika kita bicara tentang Produk Musik, apakah benar kita akan mendukung kegiatan itu bilamana Convenient Stores menjual produk fisik dan digital dari Musisi Indonesia? Jelas iya dan tidak tergantung latar belakang ekonomi dan selera masing-masing juga atas apa yang dijual di sana. Betul inilah sebuah konsen yang masuk akal untuk saya bahas di sini. Musik itu memiliki kepasrahan yang tidak tertandingi. Semisal, CD Lagu dipajang disampaing tusuk gigi atau tepung terigu pun bila ada orang yang ingin membeli maka tidak ada masalah. Namun apakah pihak pengelola mau tau tentang produk apa yang bisa dijual di sana sekaligus memberikan margin penjualan untuk mereka. 

Realitanya adalah tradisi pukul rata bahwa Musik Indonesia adalah hanya musik yang tampil di Program Dahsyat, Inbox dan sejenisnya yang harus didukung menjadi penghalang berbagai musik dipresentasikan secara merata. Faktor manusia yang mengambil kesimpulan instant tanpa riset kepemudaan yang baik pada akhirnya memberikan kealpaan penjualan bagi perusahaan. Semua tau kalau penjualan produk musik fisik sedang seret dan tidak punya jaminan penjualan yang cepat seperti 20 tahun lalu. Ironisnya malah dibiarkan saja bukan malah dibantu dipikirkan metode penjualan seperti apa yang baik untuk memberikan yang terbaik bagi Musik Indonesia. Untuk itu penting bagi institusi ini bekerjasama dengan Penasihat atau Music Merchandiser untuk memilih produk apa saja yang layak untuk dijual di sana sesuai dengan Magnetic Sales dari Captive Buyers di sekitar retail berdiri.

Kebanyakan Convenient Stores punya semangat menjual produk musik fisik namun tidak memikirkan dedikasi tempat seperti apa yang masuk akal untuk menampung ratusan album karya cipta Musik Indonesia. Memang saya gak punya hak egois untuk berekpektasi agar musik mendapatkan presentasi yang layak di sana. Tapi cara berpikir dan cara efektif agar kedua belah pihak bisa menikmati margin yang baik juga berawal dari konsep tata letak yang sempurna. Apalagi tempat ini memiliki kebebasan dalam menentukan produk mana yang akan dijual di sana karena tidak memiliki label sendiri atau kerjasama ekslusif dengan label seperti yang dilakukan Kentucky Fried Chicken atau McDonald dulu dan sekarang.

Ekslusifitas yang dilakukan Convenient Stores malah akan berujung kepada review Board of Meeting yang menyatakan kalau Produk Musik tidak bisa memberikan Total Sales yang penting dikembangkan lebih lagi. Bagi sebagian orang tulisan ini tidak penting, tapi penting juga bagi sebagian orang yang peduli Bisnis Musik. Kita sama-sama lihat saja mana yang benar-benar mau membantu Musik Indonesia dan mana yang setengah-setengah peduli. @2010aldosianturi

Di Jakarta ada sebuah komunitas yang bernama Benhil City Rockers (BCR). Awalan nama komunitas ini menandakan kalau tempat berkumpul BCR berada di Kawasan Benhil dekat Jalan Sudirman. Lebih tepat lagi di Maxweb yaitu Warnet 24 Jam di belakang rumah makan Ampera. Bagi para penikmat hiburan malam, komunitas ini sudah tidak asing karena dihuni oleh berbagai pekerja seni yang malang melintang berbelas tahun lamanya. Pertemanan yang dijalani oleh masing-masing individu di sini sudah belasan tahun. Artinya semua saling mengerti satu sama lain dan berusaha saling respek terhadap persoalan hidup dan karir masing-masing.

Saya beruntung menjadi bagian komunitas ini juga, karena dari sana saya mengerti apa arti berteman yang tulus tanpa memandang kapasitas masing-masing. Meski dilatari oleh kecintaan akan musik, namun pembicaraan yang terjadi di komunitas ini sangatlah megah. Mulai dari bahasan koleksi jam tangan, air soft gun, album launching, marketing, otomotif, buka puasa bersama, piknik, lintas dunia, social media, sneakers, hubungan cinta, BlackBerry, Android, music business, menu makanan, clothing, bola basket, futsal, telco dan apapun itu tidak ada yang pernah ditepikan dalam pembicaraan di sini. Apalagi masing-masing individu ini punya latar belakang pekerjaan dan nilai hidup yang saling berbeda. Akhirnya suasana pembicaraan tidak pernah basi dan membuat hati ingin selalu hadir berkomunitas.

BCR ini dihuni oleh banyak pelaku seni mulai dari musisi, photographer, disc jockey seperti Erik, John Doe, Carter, DJ Ethnic, DJ Schizo, DJ Kotot, Derry, Baip, Danzky Hoody, Satya Budi, Gerry, Ibnu, DJ Agung, Gregory V. Nayoan, Udet, DJ Alwin, Ikhbal Agung, Dipa Kalbuadi, Becky, Heru Bunjani, Adi Pathock, Dobi, Ardha, Jawir Mirza, Badai, Doniel, Faro, Remon Nessa, Kadek, Yacko dan masih banyak inspirator lain yang selama ini telah memajukan Indonesia lewat gairah seni-nya masing-masing. Ini adalah komunitas siapapun yang mau bersilaturahim bersama tanpa membicarakan topi masing-masing. Karena ‘low profile’ maka komunitas ini selalu didatangi oleh sahabat-sahabat baru. Komunitas BCR pun kerap memproduksi merchandise sendiri sebagai cara memvisualisasikan nilai yang diinvestasi bersama. Bila punya waktu datanglah tanpa ragu dan berkomunitaslah dengan baik.@2010aldosianturi/ Photo Credit: Adi ‘Pathock’ Siagian

BCR on Twitter? Follow them on @_BCR_